Seribu Cinta di Pintu Seribu
Entah mengapa, semenjak Fauzan mengumumkan bahwa ia telah jadian dengan Melani di pesta ulang tahun Reni kemarin dulu, aku sering berjalan-jalan tak keruan kesana-kemari di kota yang semestinya telah membuatku bosan karena telah kutinggali semenjak lahir. Sekolah menjadi sebuah rutinitas yang sangat membosankan bagiku. Mungkin tak ada teman yang menyangka hal ini, karena aku sebenarnya dikenal sebagai favorit berprestasi di kalangan guru dan teman. Tapi sungguh, aku tak sanggup. Cinta ini terpendam begitu lama pada Fauzan. Ia terpendam, tak pernah diketahui siapapun kecuali oleh tatapan mataku dengan Fauzan beberapa kali setiap kali kami berpapasan. Jantungku selalu berdegup kencang setiap kali aku berada dalam radius dua meter dari dirinya. Tapi aku tak bisa mengungkapkan perasaan ini padanya. Pandangan mata yang beradu dan diakhiri dengan saling mempersembahkan senyum telah sangat membuatku mengerti dan aku juga berharap ia...
Kakiku
melangkah gontai, aku sudah berjalan lumayan jauh, tiga kilometer dari
sekolahku ke taman kota tempat monumen tua ini tegak berdiri. Sebuah
monumen yang sebenarnya bisa menghibur oleh ukiran yang sejak lama
kusenangi. Aku masih ingat, dulu waktu masih SD, ketika teman-teman
menggambar pemandangan dalam pelajaran seni, aku jadi orang aneh dengan
menggambar Tugu Muda Semarang ini. Aku tersenyum, tapi cuma sebentar
karena aku jadi tak tahu harus kesal dengan siapa lagi. Aku bingung dan
merasa sangat dipecundangi dengan jadinya Fauzan dan Melani. Gila! Ah,
aku tak bisa salahkan Fauzan karena memang perasaanku terungkap padanya
hanya melalui senyuman. Apakah aku terlalu konvensional bahwa harus
cowok yang mendekati cewek, ah tentu tidak.Mungkin aku yang terlalu gengsian. Aaaah, aku kesal lagi dan jalan saja terus.
Aku jalan saja terus, berusaha terhibur oleh lalu lintas yang cepat ini. Aku menyeberang, dan aku sekilas melihat Gedung Lawang Sewu yang terkenal menyimpan segudang cerita horor ini.Tadinya ragu, tapi suntuknya kepalaku akhirnya membawa langkah kakiku masuk ke dalam gedung tua bekas kantor Jawatan Kereta Api zaman penjajahan Belanda ini.
Seorang ibu duduk di pintunya, dan aku diminta mengisi daftar pengunjung. Kutulis nama dan asal SMA-ku dan membayar limaribu rupiah sebagaimana diminta. Aku masuk dan berkeliaran saja di dalam gedung tua yang mungkin berusia sama dengan kota lama ini. Perhatianku tertuju pada dua orang yang asyik berdiskusi tentang gedung ini. Aku mendekat. Ternyata seorang turis domestik dengan seorang pemandu. Aku berdiri tak jauh dari mereka. Aneh, sang pemandu kok malah banyak manggut-manggutnya. Sesekali ia menanggapi pendek, si turis itu yang kelihatannya tak terlalu tua itu, bercerita tentang sejarah kota, dan si pemandu menanggapinya dengan kisah-kisah terkait sejarah gedung ini. Menarik juga diskusinya. Mereka berjalan dan aku yang tertarik dengan diskusi mereka plus lamunanku sendiri ikut saja berjalan pelan di belakang mereka memandang tembok-tembok tua dan ruang-ruang kosong ini. Aku heran juga, si turis beberapa kali mengucap beberapa hal cerdas dan menarik... tentang arsitektur sudut dalam gedung ini, pola gotik dalam tata ruangnya....
Cerita dan diskusi turis dan pemandu ini seperti cuek dengan kehadiranku. Sesekali kupandang si turis yang
bertampang cerah dan berambut cepak a la tamtama itu. Sesekali mereka
tertawa, si turis suka bercanda. Hingga ketika si pemandu mulai
bercerita tentang kisah seram di salah satu ruang yang temaram tak
peduli teriknya matahari di luar, entah bagaimana aku menyeletuk, "...ah, tempat ini lebih seram dari sisi sanitasi daripada dari sisi hantu". Ups... mereka berdua menoleh ke belakang.
"Waah, ada penguntit muda yang cantik nih....", tawa si turis. Wajahku mungkin merah sekali saat itu. Si pemandu pun sepertinya tak kuasa untuk tak terbahak. Tapi si turis seperti paham akan keterpojokanku, ia mengulurkan tangan. "Ariel...", ujarnya memperkenalkan diri. "Indri...", lirihku. "Ayo, kamu ikutan diskusi dengan kita", ajaknya, "...sedang ada tugas sekolah ke sini?". Aku menggeleng. Tawa si pemandu yang segera mereda cukup melegakanku. Aneh sekali, aku sepertinya telah masuk ke diskusi tentang gedung bersejarah ini.
Lorong demi lorong, ruang demi ruang kami lalui sambil bertukar cerita. Ya, aku tentu tahu dong beberapa hal gosip soal gedung ini, bahkan mungkin lebih dari pemandu karena ada bumbu pelajaran sejarah dalam cerita-ceritaku. Tak heran, aku seperti mengkudeta sang pemandu, dan aku tahu si turis yang bernama Ariel ini adalah seorang yang tadinya lahir dan besar di Semarang tapi semenjak kuliah hingga bekerja sekarang ini tinggal di Surabaya. Senang juga punya teman yang sangat dewasa dan cerdas cara bertuturnya. Sayang sekali, ketika kami hendak masuk ke ruang bawah tanah Lawang Sewu, penjaga dan pemandu yang semestinya belum terlalu sore untuk pulang itu sudah tidak ada. Langit memerah akhirnya memaksa kami berpisah, Ariel memberi kartu namanya. Aku terima saja. Aku langsung pulang.
Aneh sekali perasaanku bertemu dengan mas Ariel ini. Setidaknya aku lega, ada juga hiburan otak yang membuatku lupa pada Fauzan dan Melani yang menjengkelkan itu.
Entah bagaimana ceritanya, keesokan harinya, sepulang sekolah dengan kesuntukan yang sama seperti sebelumnya, aku lewat di depan Gedung Lawang Sewu lagi. "Hei, Indri...?", seperti janjian saja, bertemu lagi dengan mas Ariel. Ia menghampiriku dan mengajakku masuk ke gedung tua itu lagi, kali ini langsung melihat-lihat kawasan gedung bawah tanah bekas tempat penjara kolonial Jepang; membayar tour yang kemarin tak jadi karena waktu yang tertelan sore.
Wah, aku senang sekali. Kali ini, karena sudah ada aku, mas Ariel merasa tak perlu ditemani oleh seorang pemandu. Sore kuhabiskan berdiskusi dengan mas Ariel. Menarik! Kami tak hanya berdiskusi soal ruang bawah tanah di gedung tua ini, tapi juga banyak hal lain. Tentang kota, tentang, pilkada, tentang anak muda yang mulai kehilangan ketertarikan dengan aspek sejarah dan kemasyarakatan, nasionalisme, game komputer, Holywood, hingga masa-masa ketika mas Ariel sekolah dulu. Tanpa sadar kami sudah ngobrol lama sekali, bahkan ia mengajakku makan malam di sebuah warung tak jauh dari Lawang Sewu.
Malam itu aku dan ia sms-sms-an. Aneh, ada sesuatu di dirinya yang aku tak bisa jelaskan. Aku tak mau terlihat bodoh di depannya. Ada rasa gembira yang menarik terasa berinteraksi dengan makhluk Mars yang satu ini. Tidak ada kelucuan yang dangkal, dan kisah pelik berubah menjadi sederhana. Lupa sudah bahwa perkenalanku dengannya berawal dari kejengkelan dengan Fauzan dan Melani.
Hari ini aku ingin melihat film Batman yang baru diputar di bioskop di Simpang Lima bersama Ariel. Kami sudah beberapa kali muter-muter kota, ke museum kota, toko buku, bahkan supermarket. Beberapa kali ia menungguku di warung mie di depan sekolah. Beberapa teman seperti Susi, Siti, dan Lisa bahkan beberapa kali menggodaku. "Nggaklah... ini nggak kayak gitu! Kita deket aja kok....", pledoiku. Kocak dan hari-hariku menjadi menggembirakan. Ia bahkan beberapa kali membantuku dalam pekerjaan rumah sekolah. Ada keintiman yang kurasa antara dia dan aku. Keintiman ini berbeda, degup jantung yang berbeda, dan rasa yang berbeda. Aku tak tahu bagaimana perasaan mas Ariel, tapi yang jelas ia belum pernah bercerita tentang ia atau pasangannya, padahal menurutku pantesnya sudah...
Tadi sore, sepulang dari bioskop. Untuk pertama kalinya, ia memegang tanganku sambil berjalan. Kurapatkan berjalanku dengannya, hingga lengan kami bersentuhan rapat. Kami berjalan pulang ke arah rumahku. Sesampai di depan gerbang rumah, ia menghentikan langkahnya. Sore sudah hampir berganti malam, mata kami bertautan, dan tangan masih saling menggenggam. "Aku sayang sama mas...", lirihku pelan. Kaget aku tersadar mengucapkan hal itu. Ia tersenyum, "...aku juga sayang sama kamu, Indri...". Kedua tangannya ditempelkan di pipiku, “…usia kita terpaut jauh sekali....”. Tak sempat aku protes atau bertanya lebih jauh, keningku dikecup, kami pun berpisah.
Semenjak sore itulah hatiku mulai berantakan. Sore itu adalah pertemuanku yang terakhir dengan Ariel. Aku
masih ingat hangatnya tangannya di pipiku. Malam itu seperti biasa
SMS-ku tak berbalas, demikian pula keesokan harinya. Beberapa hari
kemudian aku menelpon dan di seberang sana sebuah rekaman menyebutkan
nomor yang dituju salah dan tidak dikenal. Semakin hari kekangenanku
pada Ariel makin menjadi-jadi. Tapi aku tak tahu harus mencari Ariel
kemana. Aku pergi ke semua tempat yang kami pernah kunjungi bersama.
Apakah ia telah kembali ke Surabaya; tapi kenapa ia tidak pamit atau setidaknya memberi tahu, entah sekadar melalui SMS? Aku tak tahu ia tinggal di mana, kartu nama perusahaan yang ia berikan
beralamat Surabaya, dan ketika nomor itu kuhubungi, lagi-lagi pesan
rekaman nomor tak lengkap dan salah bermunculan. Aku bahkan ke tempat
kami pertama kali bertemu, Lawang Sewu. Tak ada dia. Beberapa kali ke
sana aku berharap bertemu berharap bertemu dengannya atau setidaknya
pemandu wisata yang bersamanya dulu. Juga sia-sia. Ariel seperti raib
ditelan bumi tepat ketika hatiku dan hatinya terpaut.
Ini adalah kisah setahun yang lalu, dan rasa uring-uringanku karena kekangenan telah mereda oleh waktu. Aku sudah lupa dengannya. Satu-satunya kenang-kenangan yang kumiliki hanyalah sebuah foto kami berdua di photo box.
Aku menulis kisah ini karena kejadian dua hari yang lalu. Waktu itu
aku iseng membuka-buka sebuah buku tentang Angkatan Muda Kereta Api
Indonesia di perpustakaan sekolah. Waktu itu secara aneh aku merasakan
sebuah suasana yang sangat mengejutkan, mengharukan, dan mengobati rasa
desir dan kegembiraan ketika aku bersama dengan mas Ariel. Tatapan
mataku singgah pada sebuah foto hitam putih yang menggambarkan
tiga orang lelaki muda. Satu dari antara tiga orang itu menyunggingkan
senyum yang sepertinya sangat akrab. Orang tersebut
sangat mirip dengan
Ariel yang kukenal. Mungkinkah orang ini terkait sanak famili Ariel
yang gugur di medan pertempuran melawan Jepang di kota ini seperti
pernah diceritakannya padaku?
Pertanyaanku segera terjawab, caption foto itu bertuliskan: "Angkatan Muda Kereta Api Indonesia (5 September 1945): Agus Sukoco, Ariel Hernawan, dan Sutanto”. Mas Ariel-ku tersayang, kita terpaut sangat jauh… sebuah butiran air mataku jatuh...
14 Agustus 2008


Perempuan cantik itu terus berjalan, ransel ditentengnya dengan satu
lengan saja. Sambil berjalan ia mendekatkan sebuah mikrofon ke mulutnya
– mikrofon yang tersambung kabel ke sebuah earphone ke telinga kanannya.
Waktu telah menjadi sangat sempit ketika semikonduktor telah sedemikian
merasuk hidup. Ia mempercepat segala sesuatu. Ketika digitalisasi
menjadi bagian dari budaya, maka umur, usia, dan waktu menjadi susut
sementara pilihan informasi menjadi malar. Anak kecil menjadi cepat
mengerti, mulai dari perihal seks hingga menjadi seorang ahli komputer,
waktu membaca koran menjadi pendek, detak jam untuk berkirim surat juga
makin sempit, demikian juga cinta menjadi sangat volatil. 







