Seribu Cinta di Pintu Seribu

Entah mengapa, semenjak Fauzan mengumumkan bahwa ia telah jadian dengan Melani di pesta ulang tahun Reni kemarin dulu, aku sering berjalan-jalan tak keruan kesana-kemari di kota yang semestinya telah membuatku bosan karena telah kutinggali semenjak lahir. Sekolah menjadi sebuah rutinitas yang sangat membosankan bagiku. Mungkin tak ada teman yang menyangka hal ini, karena aku sebenarnya dikenal sebagai favorit berprestasi di kalangan guru dan teman. Tapi sungguh, aku tak sanggup. Cinta ini terpendam begitu lama pada Fauzan. Ia terpendam, tak pernah diketahui siapapun kecuali oleh tatapan mataku dengan Fauzan beberapa kali setiap kali kami berpapasan. Jantungku selalu berdegup kencang setiap kali aku berada dalam radius dua meter dari dirinya. Tapi aku tak bisa mengungkapkan perasaan ini padanya. Pandangan mata yang beradu dan diakhiri dengan saling mempersembahkan senyum telah sangat membuatku mengerti dan aku juga berharap ia...

Lws3 Kakiku melangkah gontai, aku sudah berjalan lumayan jauh, tiga kilometer dari sekolahku ke taman kota tempat monumen tua ini tegak berdiri. Sebuah monumen yang sebenarnya bisa menghibur oleh ukiran yang sejak lama kusenangi. Aku masih ingat, dulu waktu masih SD, ketika teman-teman menggambar pemandangan dalam pelajaran seni, aku jadi orang aneh dengan menggambar Tugu Muda Semarang ini. Aku tersenyum, tapi cuma sebentar karena aku jadi tak tahu harus kesal dengan siapa lagi. Aku bingung dan merasa sangat dipecundangi dengan jadinya Fauzan dan Melani. Gila! Ah, aku tak bisa salahkan Fauzan karena memang perasaanku terungkap padanya hanya melalui senyuman. Apakah aku terlalu konvensional bahwa harus cowok yang mendekati cewek, ah tentu tidak.Mungkin aku yang terlalu gengsian. Aaaah, aku kesal lagi dan jalan saja terus.

Aku jalan saja terus, berusaha terhibur oleh lalu lintas yang cepat ini. Aku menyeberang, dan aku sekilas melihat Gedung Lawang Sewu yang terkenal menyimpan segudang cerita horor ini.Tadinya ragu, tapi suntuknya kepalaku akhirnya membawa langkah kakiku masuk ke dalam gedung tua bekas kantor Jawatan Kereta Api zaman penjajahan Belanda ini.

Seorang ibu duduk di pintunya, dan aku diminta mengisi daftar pengunjung. Kutulis nama dan asal SMA-ku dan membayar limaribu rupiah sebagaimana diminta. Aku masuk dan berkeliaran saja di dalam gedung tua yang mungkin berusia sama dengan kota lama ini. Perhatianku tertuju pada dua orang yang asyik berdiskusi tentang gedung ini. Aku mendekat. Ternyata seorang turis domestik dengan seorang pemandu. Aku berdiri tak jauh dari mereka. Aneh, sang pemandu kok malah banyak manggut-manggutnya. Sesekali ia menanggapi pendek, si turis itu yang kelihatannya tak terlalu tua itu, bercerita tentang sejarah kota, dan si pemandu menanggapinya dengan kisah-kisah terkait sejarah gedung ini. Menarik juga diskusinya. Mereka berjalan dan aku yang tertarik dengan diskusi mereka plus lamunanku sendiri ikut saja berjalan pelan di belakang mereka memandang tembok-tembok tua dan ruang-ruang kosong ini. Aku heran juga, si turis beberapa kali mengucap beberapa hal cerdas dan menarik... tentang arsitektur sudut dalam gedung ini, pola gotik dalam tata ruangnya....

Lws2 Cerita dan diskusi turis dan pemandu ini seperti cuek dengan kehadiranku. Sesekali kupandang si turis yang bertampang cerah dan berambut cepak a la tamtama itu. Sesekali mereka tertawa, si turis suka bercanda. Hingga ketika si pemandu mulai bercerita tentang kisah seram di salah satu ruang yang temaram tak peduli teriknya matahari di luar, entah bagaimana aku menyeletuk, "...ah, tempat ini lebih seram dari sisi sanitasi daripada dari sisi hantu". Ups... mereka berdua menoleh ke belakang.

"Waah, ada penguntit muda yang cantik nih....", tawa si turis. Wajahku mungkin merah sekali saat itu. Si pemandu pun sepertinya tak kuasa untuk tak terbahak. Tapi si turis seperti paham akan keterpojokanku, ia mengulurkan tangan. "Ariel...", ujarnya memperkenalkan diri. "Indri...", lirihku. "Ayo, kamu ikutan diskusi dengan kita", ajaknya, "...sedang ada tugas sekolah ke sini?". Aku menggeleng. Tawa si pemandu yang segera mereda cukup melegakanku. Aneh sekali, aku sepertinya telah masuk ke diskusi tentang gedung bersejarah ini.

Lorong demi lorong, ruang demi ruang kami lalui sambil bertukar cerita. Ya, aku tentu tahu dong beberapa hal gosip soal gedung ini, bahkan mungkin lebih dari pemandu karena ada bumbu pelajaran sejarah dalam cerita-ceritaku. Tak heran, aku seperti mengkudeta sang pemandu, dan aku tahu si turis yang bernama Ariel ini adalah seorang yang tadinya lahir dan besar di Semarang tapi semenjak kuliah hingga bekerja sekarang ini tinggal di Surabaya. Senang juga punya teman yang sangat dewasa dan cerdas cara bertuturnya. Sayang sekali, ketika kami hendak masuk ke ruang bawah tanah Lawang Sewu, penjaga dan pemandu yang semestinya belum terlalu sore untuk pulang itu sudah tidak ada. Langit memerah akhirnya memaksa kami berpisah, Ariel memberi kartu namanya. Aku terima saja. Aku langsung pulang.

Aneh sekali perasaanku bertemu dengan mas Ariel ini. Setidaknya aku lega, ada juga hiburan otak yang membuatku lupa pada Fauzan dan Melani yang menjengkelkan itu.

Entah bagaimana ceritanya, keesokan harinya, sepulang sekolah dengan kesuntukan yang sama seperti sebelumnya, aku lewat di depan Gedung Lawang Sewu lagi. "Hei, Indri...?", seperti janjian saja, bertemu lagi dengan mas Ariel. Ia menghampiriku dan mengajakku masuk ke gedung tua itu lagi, kali ini langsung melihat-lihat kawasan gedung bawah tanah bekas tempat penjara kolonial Jepang; membayar tour yang kemarin tak jadi karena waktu yang tertelan sore.

Wah, aku senang sekali. Kali ini, karena sudah ada aku, mas Ariel merasa tak perlu ditemani oleh seorang pemandu. Sore kuhabiskan berdiskusi dengan mas Ariel. Menarik! Kami tak hanya berdiskusi soal ruang bawah tanah di gedung tua ini, tapi juga banyak hal lain. Tentang kota, tentang, pilkada, tentang anak muda yang mulai kehilangan ketertarikan dengan aspek sejarah dan kemasyarakatan, nasionalisme, game komputer, Holywood, hingga masa-masa ketika mas Ariel sekolah dulu. Tanpa sadar kami sudah ngobrol lama sekali, bahkan ia mengajakku makan malam di sebuah warung tak jauh dari Lawang Sewu.

Malam itu aku dan ia sms-sms-an. Aneh, ada sesuatu di dirinya yang aku tak bisa jelaskan. Aku tak mau terlihat bodoh di depannya. Ada rasa gembira yang menarik terasa berinteraksi dengan makhluk Mars yang satu ini. Tidak ada kelucuan yang dangkal, dan kisah pelik berubah menjadi sederhana. Lupa sudah bahwa perkenalanku dengannya berawal dari kejengkelan dengan Fauzan dan Melani.

Hari ini aku ingin melihat film Batman yang baru diputar di bioskop di Simpang Lima bersama Ariel. Kami sudah beberapa kali muter-muter kota, ke museum kota, toko buku, bahkan supermarket. Beberapa kali ia menungguku di warung mie di depan sekolah. Beberapa teman seperti Susi, Siti, dan Lisa bahkan beberapa kali menggodaku. "Nggaklah... ini nggak kayak gitu! Kita deket aja kok....", pledoiku. Kocak dan hari-hariku menjadi menggembirakan. Ia bahkan beberapa kali membantuku dalam pekerjaan rumah sekolah. Ada keintiman yang kurasa antara dia dan aku. Keintiman ini berbeda, degup jantung yang berbeda, dan rasa yang berbeda. Aku tak tahu bagaimana perasaan mas Ariel, tapi yang jelas ia belum pernah bercerita tentang ia atau pasangannya, padahal menurutku pantesnya sudah...

Tadi sore, sepulang dari bioskop. Untuk pertama kalinya, ia memegang tanganku sambil berjalan. Kurapatkan berjalanku dengannya, hingga lengan kami bersentuhan rapat. Kami berjalan pulang ke arah rumahku. Sesampai di depan gerbang rumah, ia menghentikan langkahnya. Sore sudah hampir berganti malam, mata kami bertautan, dan tangan masih saling menggenggam. "Aku sayang sama mas...", lirihku pelan. Kaget aku tersadar mengucapkan hal itu. Ia tersenyum, "...aku juga sayang sama kamu, Indri...". Kedua tangannya ditempelkan di pipiku, “…usia kita terpaut jauh sekali....”. Tak sempat aku protes atau bertanya lebih jauh, keningku dikecup, kami pun berpisah.

Lws1 Semenjak sore itulah hatiku mulai berantakan. Sore itu adalah pertemuanku yang terakhir dengan Ariel. Aku masih ingat hangatnya tangannya di pipiku.  Malam itu seperti biasa SMS-ku tak berbalas, demikian pula keesokan harinya. Beberapa hari kemudian aku menelpon dan di seberang sana sebuah rekaman menyebutkan nomor yang dituju salah dan tidak dikenal. Semakin hari kekangenanku pada Ariel makin menjadi-jadi. Tapi aku tak tahu harus mencari Ariel kemana. Aku pergi ke semua tempat yang kami pernah kunjungi bersama. Apakah ia telah kembali ke Surabaya; tapi kenapa ia tidak pamit atau setidaknya memberi tahu, entah sekadar melalui SMS? Aku tak tahu ia tinggal di mana, kartu nama perusahaan yang ia berikan beralamat Surabaya, dan ketika nomor itu kuhubungi, lagi-lagi pesan rekaman nomor tak lengkap dan salah bermunculan. Aku bahkan ke tempat kami pertama kali bertemu, Lawang Sewu. Tak ada dia. Beberapa kali ke sana aku berharap bertemu berharap bertemu dengannya atau setidaknya pemandu wisata yang bersamanya dulu. Juga sia-sia. Ariel seperti raib ditelan bumi tepat ketika hatiku dan hatinya terpaut.

Ini adalah kisah setahun yang lalu, dan rasa uring-uringanku karena kekangenan telah mereda oleh waktu. Aku sudah lupa dengannya. Satu-satunya kenang-kenangan yang kumiliki hanyalah sebuah foto kami berdua di photo box.

Aku menulis kisah ini karena kejadian dua hari yang lalu. Waktu itu aku iseng membuka-buka sebuah buku tentang Angkatan Muda Kereta Api Indonesia di perpustakaan sekolah. Waktu itu secara aneh aku merasakan sebuah suasana yang sangat mengejutkan, mengharukan, dan mengobati rasa desir dan kegembiraan ketika aku bersama dengan mas Ariel. Tatapan mataku singgah pada sebuah foto hitam putih yang menggambarkan tiga orang lelaki muda. Satu dari antara tiga orang itu menyunggingkan senyum yang sepertinya sangat akrab. Orang tersebut Lws4sangat mirip dengan Ariel yang kukenal. Mungkinkah orang ini terkait sanak famili Ariel yang gugur di medan pertempuran melawan Jepang di kota ini seperti pernah diceritakannya padaku?

Pertanyaanku segera terjawab, caption foto itu bertuliskan: "Angkatan Muda Kereta Api Indonesia  (5 September 1945): Agus Sukoco, Ariel Hernawan, dan Sutanto”. Mas Ariel-ku tersayang, kita terpaut sangat jauh… sebuah butiran air mataku jatuh...

14 Agustus 2008

                            

Nyanyi Gunung Padang

upgp1.jpg

Aku berdiri di dekat mata air itu. Ya, aku berada di sebuah tempat yang mestinya terkenal tapi sungguh, tempat ini sangat sepi padahal petang belum juga turun. Aku berada di tempat ketika Ical dan aku sering bercengkerama di sini. Ical yang membawaku ke tempat ini. Ia menuntunku agar aku tidak memandang dunia sedangkal yang semestinya. Bahwa eksotisme kuno dan tradisional bisa jadi adalah jawaban kebuntuan akan inovasi dari ekonomi pasar yang mengglobal seperti yang terasa hari ini. Ical telah mengubah bagaimana aku mestinya memandang dunia. Aku lahir, dibesarkan, dan bersekolah di desa kecil tak jauh dari tempat aku berdiri saat ini. Desa di mana tempat paling kota adalah Sukabumi, sebuah tempat ramai di mana ibu biasa mendandani aku agar wajahku tak terlalu kampung saat menemani ayah menjualkan hasil panen teh kami. Duniaku adalah dunia yang jauh dari hiruk pikuk kota, yang bosan dengan senyapnya desa. Cara pandangku adalah dunia yang jauh dari keramaian bioksop 21 apalagi dunia maya Google, yang terkadang muak dengan suara penyiar radio yang tak bosan-bosan memutar dendang Sunda atau dangdut. Horizonku adalah dunia yang rindu dengan manisnya boneka Barbie dan lezatnya Pizza Hut, yang muak dengan kuliah ibu tentang rajutan sambil mengunyah ikan peda atau peyeum yang itu pun terkadang sudah dianggap makanan mewah. Aku tersenyum mengingat wajah lucu Ical ketika aku menceritakan semua itu.

Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri yang diadakan serempak seantero negeri telah membawaku ke impian-impian masa kecil itu. Aku akhirnya bisa menikmati Justin Timberlake di restoran Pizza Hut ketika ditraktir oleh mahasiswa yang menganggapku cantik, yang kukenal melalui Friendster dan selalu menghadiahiku dengan emotikon lucu nan romatis di ruang chatting. Namun Ical telah mengubah semua itu. Ketika mimpi akan hidup yang mengasyikkan menanjak terus dalam cakrawalaku akan regangan Adidas di tubuhku, denting raket Wilson di lapangan tenis kampus, dan Nokia terbaru yang berdentam-dentam dihujam SMS sobat-sobatku, Ical hadir di sana dan membuka relung kerinduan purba akan kemegahan masa lalu; bukan masa laluku, tapi masa lalu mereka yang memberi warisan terbaik buatku. Ical hadir dengan teguran, bukan dengan rayuan. Ical hadir dengan arahan, bukan dengan pujian. Ical adalah sosok yang kubenci dan kurindu sekaligus yang memberi hawa segar ketika aku berada di dekatnya dan memberi kehangatan ketika matanya menatapku. Ia datang dan membongkar impianku yang sangat dangkal tentang hidup. Ia membuatku membuang kekagumanku yang konyol akan aspek budaya yang semestinya membuatku merasa tercuri.

Siang itu Ical datang ke tempat aku kos. Aku sedang bersiap hendak pulang mudik, besok adalah libur panjang, dimulai dari Kamis, Jum'at, dan tentu saja Sabtu dan Minggu. Ayah dan ibu menanti di rumah.

"Mau mudik, Rin?", tanya Ical.
"Iya... agak males sih, tapi mau gimana lagi, gak ada alasan nih..."

"Aku mau tunjukin tempat yang bakalan bikin kamu penasaran...."
"Apa? Dimana? Males ah sama kejutan...."

"Gak, ini bukan kejutan. Ini adalah hal biasa buat kamu selama ini tapi nanti bakalan jadi luar biasa..."
Ia melompat ke dalam kamarku. Entah bagaimana ia membantuku berkemas memasukkan barang yang mau kumasukkan ke dalam tas ranselku.

"Lho, katanya mau nunjukin tempat asyik. Kok malah bantuin packing? Ngusir ya?"

Seringainya selalu lucu di mataku. Wajahnya memang tak tak tampan, tapi ada sesuatu di tatapan matanya yang membuatku selalu merasa bahwa tiap hari aku semakin mencintainya. Tak menjawab, ia langsung menarik tanganku keluar kamar kos.

Sekejap kami sudah ada di stasiun Leuwipanjang. Ia tak memberi penjelasan mengapa ia ikut mudik bersamaku. Ia begitu bersemangat ketika kami naik bus menuju kampung halamanku. Kami duduk bersebelahan. Mungkin masih beberapa waktu lagi bis baru akan berangkat, pikirku, dan aku merasakan kehangatan yang indah ketika tangannya menggenggam jemariku. Ia memandangiku dengan lucu.

"Lihat apa?"
"Kamu...."
"Kenapa? Jelek ya?"
"Iya, yang paling jelek dari semua bidadari Parahyangan, tapi paling menyenangkan, paling manis dan baik, paling setia, paling...." ia terhenti sejenak, ada orang melintasi koridor dalam bis di dekat kami duduk, "....paling aku sayang sampai kapanpun..." Kalimat setengah berbisik yang mungkin baru pertama kali keluar dari mulutnya. Aku terdiam. Aneh sekali perasaanku. Aku tak mengerti apa maunya Ical kali ini. Hmmm... apakah ia mau ikut mudik untuk melamarku? Ah, aku belum mau kawin, Ical!

Aku sempat tertidur di pundaknya dalam perjalanan. Ia membangunkanku dengan membelai rambutku dengan lembut. Kami sudah sampai di Sukabumi. Ia mengajakku turun. Tapi aku makin penasaran. Ia membawaku naik angkutan ke arah desa Campaka, bukan ke desa tujuanku. Ia tersenyum-senyum. Aku ikut saja ketika ia mengambil angkutan yang berlawanan arah dengan yang semestinya itu. Kami duduk di angkutan kota.

"Tempat ini ada jauh sebelum orang leluhurmu kenal dengan tulisan, dekorasi dan ornamen...."
"Tempat apa...?"
"Tapi teknologinya luar biasa. Mereka membangun konstruksi anti longsor tanpa pengetahuan tentang hukum Newton sama sekali!"
"Siapa?"
"Wuiih... tak sabar aku menunjukkannya pada dirimu, wahai puteri Priangan!"
Matanya memandangku dengan tajam tapi sungguh lembut. Aku tersipu. Aneh, hari ini pujian berkeluaran secara lancar darinya membuatku kehilangan pertahanan diri.

Ada sekitar sejam kami mesti jalan kaki. Ia membawa ranselku dan ranselnya sekaligus. Tanganku bahkan sudah perih dengan hanya menenteng botol air mineral. Jalannya tak ber-aspal. Kaki hampir lecet hingga kami berada di sebuah gerbang yang menurutku sungguh angker dan seram di siang bolong itu. Ya, aku sudah lama mendengar tentang tempat ini, tapi baru kali ini aku berada langsung di tempatnya: kawasan megalitikum gunung padang. Tak ada siapa-siapa yang menyambut, meski di sana berbagai plakat kayu menerangkan tempat itu adalah tempat wisata yang dilindungi negara, bla.. bla... bla...

Senyap sekali dan aku tak kuasa memandang undakan tangga yang tinggi sekali. Ia mengajakku mulai menyusuri tangga. Lututku hampir copot. Siapapun yang membangun tempat ini pasti membuatnya untuk bertahan hidup, pasti tujuannya sangat penting. Tempat ini pasti dibangun bukan untuk senang-senang. Pikiran berkecamuk di kepalaku, sementara desah nafas kelelahan mulai mengeras dari hidungku. Wah, aku perlu rajin-rajin fitness...

Setengah jam kami mendaki, letih, tapi ada rasa penasaran yang terus-menerus berakumulasi dalam pikiranku melihat tumpukan batu berbentuk persegi yang jadi anak-anak tangga ini. Rasa penasaran ini membunuh pelan-pelan rasa gelisah dan tak pasti serta keheranan mengapa Ical membawaku ke tempat ini. Ical sesekali memegang tanganku membantuku melawan rasa letih tubuhku melawan gravitasi. Hingga kami tiba di anak tangga terakhir dan di hadapan kami terpampang sebuah lanskap yang sungguh membuat jantungku hampir berhenti berdegup.

Kulirik ada senyum di wajah Ical melihat tumpukan batu-batu andesit yang berbentuk persegi dan berukuran sangat besar di hamparan datar di tempat yang sangat tinggi ini. Senyuman yang menurutku sangat membuat wajahnya menjadi luar biasa ganteng. Kami berpegangan tangan menyusuri batuan yang tegak di tanah. Tak ada kata, hanya semilir angin. Tak ada orang di tempat yang mestinya jadi tempat wisata namun tak bisa populer itu. Ada nuansa kuno, tapi ada ketakjuban di dalam benakku. Nenek moyangku-kah yang membangun ini semua? Tapi mengapa dari tadi aku tak melihat ornamen keagamaan sebagaimana yang terlihat di candi-candi? Kenapa bentuknya semua hanyalah batu-batuan persegi? Semua serba persegi. Guru-guru sejarah mungkin menyebut tempat ini sebagai situs punden berundak-undak karena memang banyak undakan bebatuan di sana. Tapi peradaban yang membangun tempat ini sepertinya memang belum kenal dengan tulisan, benar kata Ical ketika kami masih dalam perjalanan dari Bandung tadi.

"Kamu mesti bangga, Rini...," lirih Ical, "...ini bukan Eropa!"
Kami berjalan melintasi puing-puing bangunan berbentuk kotak itu, yang juga dibangun dengan kotak-kotak batu. Keteraturan yang aneh ditambah semilir angin gunung mendirikan bulu kudukku. Hal ini mungkin ditambah dengan kesendirian kami berdua di tempat ini. Hanya karena aku sedang bersama Ical, aku merasa hangat dan nyaman. Ada kenyamanan ketika bersama Ical yang aku tak bisa terangkan, sebuah rasa aman yang mungkin berasal dari rasa cintaku padanya.

Ical adalah orang yang membuatku sadar bahwa para pemimpin negeriku secara sadar atau tidak sadar telah membuat masyarakatnya merasa lebih rendah dari bangsa pembuat Mercedes, Suzuki atau Yamaha. Ia pernah mengatakan bahwa orang terkadang lupa akan kecantikan mojang priangan ketika berhadapan dengan kecantikan mereka yang berakting di depan kamera Holywood. Ia marah ketika aku membanding-bandingkan dirinya dengan si ganteng Brad Pitt, suatu hal yang bagiku sangat menggelikan. Di tengah tumpukan batu ini pula aku terakhir kali menggenggam hangatnya tangan Ical. Di tumpukan-tumpukan batu di tempat di mana ketinggian gunung Gede, gunung Karuhun, dan gunung-gunung lain adalah setara dengan ketinggian hidungku, aku merasakan cinta Ical untuk terakhir kali.

Siang itu langit mendung. Kami berlarian di tumpukan batu itu dengan gembira. Sungguh romantis sore itu. Rasa letih lenyap ketika romansa hingga di tengah pelukannya di tempat yang tinggi ini. Mendung itu tiba-tiba berubah menjadi hujan rintik-rintik, dan tak ada tempat berteduh di sana. Tak ada pepohonan yang cukup untuk membuat kami tetap kering dan untuk berlari turun menyusuri ratusan anak tangga turun ke bawah berisiko jatuh karena licin. Kami biarkan air langit membasahi. Dari ransel kami keluarkan pakaian mudik yang kubawa untuk menahan terpaan gerimis di kepala.

"Ical... tempat ini aneh sekali!" kataku.
Ia tertawa-tawa. Sore itu kami duduk di tumpukan batu melepas lelah dengan sebotol air mineral. Ical berada tak jauh dariku, sibuk melihat bebatuan. Terkadang ia berkacak pinggang. Entah apa yang ada di benaknya. Aku duduk dan melihatnya kesana kemari di tengah tumpukan batu yang ratusan meter persegi itu. Hingga entah bagaimana rintik hujan dan keletihan mmebuatku merasa sangat mengantuk. Dan itulah kali terakhir aku melihat Ical. Hari telah sore. Gerimis telah berhenti. Aku seorang diri di ketinggian tumpukan batu-batu kuno itu. Tak ada Ical ketika sadar bahwa aku telah tertidur beberapa jam lamanya.

Aku mencari-cari Ical sore itu. Tumpukan batu demi tumpukan batu kulewati dengan panik sambil berteriak-teriak memanggil nama Ical. Entah bagaimana, ketika aku tertidur Ical telah ditelan bumi.

"Ical..... Ical.... kamu di mana?"
Tak ada sahutan.
"Ical.... jangan ngerjain deh.... udah sore!"
Hanya ada kebisuan.
"Icaaaaal!"
Hingga langit memerah aku sadar bahwa Ical tidak ada, dan ini bukan canda. Mungkinkah Ical meninggalkanku sendiri di tempat seperti ini? Aku mulai kuatir Ical mungkin terjatuh? Atau ada ular yang menggigitnya? Berbagai sangkaan hinggap. Tapi aku sadar bahwa aku mesti segera turun dari puncak bukit ini. Ical sudah tak ada di sini. Aku panik. Aku setengah berlari menyusuri anak tangga yang kecil dan gelapnya petang mulai hinggap. Mulutku meneriakkan nama Ical, dan mataku berisak air mata. Aku tak tahu perasaan apa yang ada di situ. Ical pasti telah mengalami sesuatu. Beberapa belas menit aku sampai di bawah setelah beberapa kali hampir terjatuh. Di bawah tidak ada orang. Ada rumah penjaga tempat arkeologis ini. Aku berlari menghambur ke pintunya dan menggedor keras-keras. Tak ada sahutan.

"Pak....pak.... tolong...."
Tak ada sahutan. Aku berteriak-teriak malam itu. Malam itu aku berjalan kaki sendirian di tengah hamparan kebun teh dan jalanan bebatuan. Dini hari aku sampai di rumah. Aku pingsan. Aku terbangun dengan jarum infus telah memasukkan cairan garam di lenganku. Aku koma tiga hari kata suster.

Sekarang aku berdiri di tempat Ical kulihat terakhir kali. Tempat ini masih sepi. Itu kejadian dua tahun yang lalu. Ical dikatakan raib. Polisi sempat menanyaiku. Ical hilang ditelan bumi. Tak ada apa-apa di sini. Tak ada jejak Ical. Ical telah hilang. Aku pandangi mata air tempat Ical mengisi botol air minum kami waktu itu. Seorang diri aku naik ke atas gunung tempat batu-batu megalitikum itu bertumpuk-tumpuk. Sesampai di atas, aku seolah merasakan Ical ada di situ. Ya, minggu lalu aku telah diwisuda, dan tak ada Ical di sana. Bebatuan persegi dan berbentuk kotak yang membentuk tempat persegi aneh itu masih sama. Semua masih sama ketika aku pertama kali berdiri di sana pertama kali. Hanya saja tadi di bawah aku masih sempat bertemu dengan kuncen penjaga tempat ini. Ada keramaian di bawah tadi, oleh petani kebun teh yang bercengkerama. Tapi di atas sini aku sendirian.

Aku duduk di sebuah tumpukan batu. Kulihat langit di dan batas cakrawala di kejauhan. Tanpa terasa ada air hangat jatuh di pipiku. Aku kehilangan orang yang kusayang di tempat ini. Entah dari mana bunyinya, aku dengar dentingan nada-nada. Seperti ada orang yang bermain kulintang. Kucari-cari dari mana sumber bunyi itu. Seperti besi dipukul-pukul dan membentuk nada-nada tradisional Sunda. Apa itu? Aku berdiri dan mencari-cari sumber melodi yang mendirikan bulu kuduk itu. Nada yang aneh.

Makin lama nyanyian dan ketukan kulintang itu makin keras. Aku menerawang dan di bagian tengah dari situs megalitik ini kulihat seorang lelaki tua berambut panjang memukul-mukul sebuah batu. Astaga, bunyi kulintang itu bukan dari kulintang, tapi dari bebatuan yang ada dipukul-pukul oleh lelaki tua itu. Aku agak mempercepat langkah mendekati lelaki itu. Namun tak sampai lima meter mendekati posisinya, aku tak melihatnya lagi. Astaga, menghilangkah dia? Apakah dia makhluk halus penunggu tempat ini sebagaimana sering dimitoskan orang? Ya ampun, aku tadi baru melihat apa?

Aku masih bingung, tapi curah hujan yang sedang tinggi membuat tanah di sini memang agak lembek. Sepasang jejak terpatri di sana. Aku tadi tidak sedang berhalusinasi atau melihat jin. Tadi memang ada orang baru berdiri di situ. Tapi aneh, jejak itu hanya sepasang. Tak ada jejak lain yang menunjukkan ia beranjak dari tempatnya berdiri di situ. Aku mendekati jejak itu. Kuingat-ingat posisi lelaki tua itu dan meraih sebuah batu yang mirip pemukul gong. Kupukul batu sebesar tubuhku yang ada di depanku yang tadi kulihat dipukul-pukul oleh lelaki tua itu. Benar saja, suara pukulan yang keluar bukanlah suara batu yang dipukul, tetapi suara dengan nada-nada tertentu. Nada dan ketika aku memukul batu yang tergeletak melintang di sebelahnya aku telah membunyikan dua nada. Ah, aneh, suara itu indah sekali. Aku seolah lupa dengan keherananku dengan orang tua tadi. Tanganku terus saja memukul-mukul batu itu, lentingannya cukup menenangkan. Aku teringat dengan lagu-lagu untuk keperluan meditasi yang kini marak dijual di toko-toko CD dan kaset. Sekonyong-konyong aku teringat dengan Ical, dan sekonyong-konyong lagi aku seperti melihat wajahnya kemana pun aku melirikkan mataku. Aku memang merindukan Ical, tapi entah mengapa aku tiba-tiba menjadi sangat merindukannya saat ini. Aku masih memukul-mukul batu-batu besar itu dan nada-nada dentingan terus saja menggema di kekosongan tempat kuno nan terlantar ini.

Dua tahun lalu aku berada di tempat ini dan Ical. Ical menghilang, raib entah kemana. Aku tak tahu apa kaitannya dengan batu-batu yang memberi nada-nada menenangkan ini. Tiba-tiba aku tersadar hari sudah sangat sore. Angin petang mulai mempermainkan rambutku. Sinar mentari menjingga mulai menyeruak. Aku merasa harus segera turun. Akhirnya kuhentikan pukulanku pada batu-batu itu. Wajah Ical yang kusayang mulai menghilang di mataku. Aku masih merindukannya. Aku berpaling dan bersiap melangkah untuk turun, pulang. Pikiranku kosong tatkala aku menuruni situs kuno yang cederung tak terawat itu.

Namun ada sesuatu yang aneh terjadi pada diriku begitu aku mulai menyusuri jalan desa ke jalur angkutan kota. Ada suatu perasaan yang aneh hinggap di diriku. Seperti sebuah perasaan lega yang tak bisa kujelaskan, apakah karena aku baru mengalami pengalaman aneh melihat orang tua itu, atau tiba-tiba rindu yang memuncak akan kekasihku, Ical, atau nada-nada dari batu yang dibunyikan itu, atau apa....

Sebuah perasaan yang tenang, apalagi ketika sebuah angkutan kota mulai memperlambat jalurnya siap untuk menghantarku ke kota Cianjur. Ada kesejukan di hati yang aneh sekali. Ada suatu perasaan aneh yang entah bagaimana membuatku sangat yakin dan makin lama makin kuat dan menenangkanku. Aku entah bagaimana merasa bahwa Ical masih ada. Ia masih hidup dan ia masih mencintaiku. Sesuatu yang berbeda, mungkin dimensi, mungkin mistik, mungkin apa, sesuatu tempat di mana Ical ada, hidup, dan ia masih merindukanku, sama seperti aku juga masih merindukannya hingga hari ini.... Cinta yang abadi dan tetap menyala meski telah mendapat kesan purba, kuno, dan dianggap aneh, bahkan ditelantarkan oleh peradaban dan kekinian.

Bandung, medio Maret 2008

Siti Kangen

Untitled3 Perempuan cantik itu terus berjalan, ransel ditentengnya dengan satu lengan saja. Sambil berjalan ia mendekatkan sebuah mikrofon ke mulutnya – mikrofon yang tersambung kabel ke sebuah earphone ke telinga kanannya.
“…iya, Siti lagi di mall juga nih, rame banget tau gak, Yang…”
Sebuah senyuman tersungging di bibirnya.
“…wah, mau dong… itu bagus banget lagi.., nanti Siti bisa ikutan dong, ya?”
Tiba-tiba di tertawa.
“…ha..ha..ha…, kamu itu ya, nakal dan genit tahu gak…”
Dia berjalan terus, sesekali membenarkan ranselnya.

“…kamu itu mesti banyak istirahat, lho… ntar sakit siapa yang repot, coba….”
Matanya menerawang, sementara langkah kaki telah terhenti di anak tangga eskalator.
“…iya, Siti juga sering kan begadang, tapi ya, kesehatan itu penting, Yayang…”
Ia meneruskan langkahnya, matanya menerawang ke etalase di koridor tempat ia berjalan.
ah, kamu… eh, nanti kalau kamu ultah Siti mau ngasih hadiah spesial… pasti suka!”
Matanya masih saja melihat-lihat ke etalase.
Idiiih… sana makan ah, ntar kamu sakit lagi. Siti gak tenang kalau kamu sakit….”
Hampir saja dia tertabrak orang yang berjalan berlawanan arah dengannya.
“…tuh, Yang, Siti hampir nabrak orang nih….”
Cekikikan tawanya mungkin terdengar seksi di seberang sana.

“Berapa semua?,” perempuan cantik itu bertanya pada seorang pramuwisma.
“…iya, ini juga lagi beli kue, laper dan stress tau gak di kantor….”
Dari dompetnya ia keluarkan selembar uang seratus ribuan.
aduuuh, enak banget! Mahal gak di sana?”
Sebagaian jemari di tangan kanannya menerima uluran bungkusan plastik kue, sementara jemari lainnya menerima kembalian. Tangan kirinya masih mendekatkan mikrofon kecil itu ke bibir seksinya.
ah… kamu itu kok gitu sih, Siti mau dong….”
Seanggukan ramah dan senyum tipis ia sodorkan ke penjaga toko kue itu, ia melangkah keluar toko dan kembali di koridor mall yang sejuk itu.
“Siti kan udah bilang berapa kali, pastikan apa yang diperlukan dong sebelum berangkat ke kampus….”
Orang makin banyak saja lalu-lalang, karena makin sore.
“…ha…ha…ha… gak kebayang deh wajah kamu dibegitukan….”
Ia tertawa, orang terus juga berlalu-lalang.

Eh, tau gak, papa kemarin marah lho, sama Siti”
Ia berjalan dan nyerocos terus. Tangannya memegang bungkusan kue yang lebih besar dari ukuran kepalanya itu.
“…masa Siti masih dianggap kayak gadis SMA, pake jam malam-lah, mesti ini-itulah, semua-semua deh, bosen….”
Bibir merah tanpa lipstiknya merengut keriting. Matanya mencari-cari sesuatu.
eh, Siti lapar, Yang, mau cari tempat duduk dulu ah, sambil makan kuenya…”
Ia akhirnya menemukan tempat duduk di mall itu, dekat eskalator. Diletakkannya bungkusan plastik kue itu.
“Sayang, Siti mau makan kue nih, kamu juga kan di sana?”
Ia menunduk, tangan kirinya mencari-cari kue yang diinginkannya, tangan kanannya masih berusaha mendekatkan mikrofon ke mulutnya. Rambutnya terkibas-kibas di pundaknya. Akhirnya ia menemukan kue pandan berwarna kehijauan itu.
eh.. tau gak, Yang, ini kuenya enak lho… uppssss…
Sedikit krim di atas kue pandan itu memercik ke celana kecoklatan yang dikenakannya.
“…aduuuh, Yang, ini krim kuenya jatuh ke celana Siti…. uuuh…”
Ia mencari-cari tisu di tasnya, tangan kananya meletakkan kue itu di tempat duduknya.
“…kamu ‘kan tau, Siti gak suka banget sama noda,…ah mesti segera pulang nih, ganti…”
Ia melap krim yang menempel di celananya itu.
“…Siti senang lho pake celana ini, tau gak kenapa? Karena kamu suka kalo Siti pake celana ini…”
Ia melemparkan tisu bekas melap celananya ke tempat sampah yang tak jauh dari situ.
“…eeeh, jangan cemburuan gitu dong, Yang. Aku ingin tampil seksi hanya buat kamu, kok…”
Acara makan dilanjutkan. Matanya mendelik-delik, entah karena enaknya kue pandan, atau karena rayuan yang beresonansi dari earphone dan gendang telinganya.
“Harusnya, aku lho, yang cemburu…. Kamu ‘kan ganteng… hi hi hi…”
Kicauannya berlangsung terus, tenggelam di soundtrack orang-orang yang belanja atau sekadar memandang-mandang etalase. Kemudian ia bangkit, dan melangkah, masih tergopoh-gopoh dengan tas, mikrofon, dan bungkusannya.

“…wah, emangnya di situ gak ada gitu?”
Langkahnya pelan, seolah menikmati, namun jiwanya tak sedang berada di keramaian itu.
“ …nanti ya, Yang, Siti temanin kamu deh….”
Suasana makin ramai dengan pengunjung. Glukosa yang berasal dari kue pandan menenangkan si gadis, dan tawa riang menjadi manifestasinya, celoteh terus berlanjut.

***

Untitled2 Waktu telah menjadi sangat sempit ketika semikonduktor telah sedemikian merasuk hidup. Ia mempercepat segala sesuatu. Ketika digitalisasi menjadi bagian dari budaya, maka umur, usia, dan waktu menjadi susut sementara pilihan informasi menjadi malar. Anak kecil menjadi cepat mengerti, mulai dari perihal seks hingga menjadi seorang ahli komputer, waktu membaca koran menjadi pendek, detak jam untuk berkirim surat juga makin sempit, demikian juga cinta menjadi sangat volatil.

Kulit putih Siti sudah tidak putih lagi. Wajahnya sekarang pucat, ia terbaring di meja bedah seorang dokter aborsi yang tak memperhatikan lagi etika kedokteran: ketika ia lebih memilih pro choice daripada pro life.

Ketika verbalitas telah habis disedot komunikasi, maka pertemuan menjadi semakin esensial. Percintaan yang melibatkan ekspresi verbal terjadi secara simultan dengan keseharian, sementara percintaan fisis menjadi aksen ketika pertemuan geografis berlangsung. Siti harus menggugurkan kandungannya, bahkan tak ditemani oleh pacarnya tercinta.

Tak perlu memang ditemani secara geografis.  Di balik berurainya rambut lurus hitam jenazah telanjang itu. Di dekat kupingnya yang putih kekuningan, terlihat earphone abu-abu itu menyembul. Sang pacar sedang sibuk dan Siti tewas di pangkuan maya sang kekasih yang entah di mana…

Bandung, 14 Februari 2008

dari Lisa ke Asri

bunga yang cantik itu bernama Lisa, sebuah nama yang didapat dari ayah dan ibu.

ia tumbuh di jalan dan menangkap mata mereka yang lewat dan membuat mereka terpesona.

aku terpesona olehnya, dan ingin ia selamanya di sana.

kasihku pada pesonanya kuungkap dengan menyiraminya setiap pagi,

namun mereka yang lewat pasti ingin memetiknya, karena itulah cara orang banyak mengungkap kasih,

memetik Lisa dan memajangnya di vas bunga di ruang tamu, hingga ia layu, dan dibuang...



gaun yang menawan itu bernama Una, sebuah nama yang didapat dari desainernya.

ia dipajang di etalase butik dan menangkap mata mereka yang lewat dan membuat mereka terpesona.

aku terpesona olehnya, dan ingin memandangnya setiap hari di sana di seberang butik itu.

namun mereka yang lewat pasti ingin membelinya, karena itulah cara orang banyak mengungkap kasih,

membeli Una dan mengenakannya tiap hari, hingga ia kusut dan rusak, dan dibuang...


burung bersuara merdu itu bernama Sinta, sebuah nama yang didapat dari neneknya.

ia bernyanyi di pepohonan di pinggir desa, dan menarik perhatian yang ada di bawah pohon.

aku terpesona olehnya, selalu kutebar biji jagung setiap kali aku lewat dekat pohon itu.

namun mereka yang lewat pasti ingin memilikinya, karena itulah cara orang banyak mengungkap kasih,

menangkap Sinta dan mengurungnya di sangkar, hingga tak lagi mampu bernyanyi, dan dibuang...


lukisan itu bernama Indah, sebuah nama yang didapat dari pelukisnya.

ia melukiskan senyuman yang menawan, menarik perhatian siapapun yang melihatnya.

aku terpesona olehnya, selalu aku berdiri di depannya dan memandanginya di sana.

namun mereka yang melihat pasti ingin memilikinya, karena itulah cara orang banyak mengungkap kasih,

membeli Indah, menaruhnya di rumah, hingga tak banyak lagi orang dapat menikmatinya...


adalah rumus hidup bahwa semua yang Asri selalu disenangi,

namun puncak kasih manusia diungkap melalui merusak, membelenggu, mengotori, bahkan membunuh.

manusia mengasihi, namun jarang mampu berkorban untuk yang dikasihi....


Bandung, 07-27-07

Cerita Burung Hantu

Ada sebuah cerita di tahun 1988 di daratan yang tanahnya berwarna hijau

Seorang isteri lelaki meminta lelaki itu melupakannya dan pergi meninggalkannya

Lelaki itu terhuyung pergi dan menenggak alkohol empat puluh persen

Dilakukannya tiap malam namun tak kunjung bisa ia lupakan isterinya

Hingga suatu malam ia genggam leher botol itu dan menembak kepalanya sendiri

Akhirnya ia dapat melupakan isterinya dan mendapat kelegaan luar biasa...


Kami menemukannya terkapar di kamar motel itu dengan darah dari kepalanya

Di kantongnya terdapat coretan kecil, mungkin tulisan terakhirnya

Ia menangisi isterinya dan mengaku tak mampu untuk berhenti mencintainya

Kami kuburkan dia di pemakaman kumuh dengan burung hantu memperhatikan...



Orang sekampung mulai bergunjing dan bergosip

Tak ada yang tahu betapa menyesal isterinya telah meninggalkannya

Malam-malamnya kini ditemani alkohol dan rokok yang sebelumnya tak pernah dihisapnya

Namun malam demi malam ia tak dapat melupakan suaminya yang mendahuluinya

Hingga suatu malam ia genggam leher botol itu dan menembak kepalanya sendiri

Akhirnya ia dapat lupa dan merasa lega oleh rasa bersalah yang dalam itu...


Kami menemukannya terkapar di loteng rumah kontrakannya dengan darah di kepalanya

Di dekat bungkusan rokoknya terdapat foto ia tersenyum ceria dengan sang suami

Ia merasa telah menyianyiakan kasih sang suami dan tak mampu lepas dari rasa bersalah

Kami kuburkan dia di dekat kami menguburkan suaminya dahulu

Dan burung hantu itu masih ada di sana memperhatikan...

att. to Krauss' 2007 whiskey lullaby

Mengutip Sapardi...

ada yang sedang menanggalkan pakaianmu satu demi satu,
mendudukanmu di depan cermin,
dan membuatmu bertanya, "tubuh siapakah yang kukenakan ini?"

ada yang sedang diam-diam menulis riwayat hidupmu,
menimbang-nimbang hari lahirmu,
mereka-reka sebab-sebab kematianmu

ada yang sedang diam-diam berubah menjadi dirimu...

Sapardi Djoko Darmono
Metamorfosis, 1981.

Thian-Sa

          Mungkin kau tak kenal dengan Ping Cheng-Shu. Kau tak akan kenal kalau kau tak tinggal di Shu-Ko, tempat tinggal kami yang hanya beberapa kilometer dari kota kecil Chi-chin. Kalau kau masih bingung, kami ini adalah orang-orang pantai di negeri pulau Formosa di ufuk matahari terbit. Cheng-Shu adalah guru sekolah dasar di pedesaan nelayan tempatku tinggal ini. Ia baru datang enam bulan lalu, tergopoh-gopoh membawa sekian banyak buku, namun dengan ekspresi wajah yang sungguh dingin, tidak ramah, tapi juga tidak sinis. Pertama kami berpapasan adalah saat ketika tiba-tiba di tengah langkah-langkah cepatnya ia tiba-tiba berhenti. Waktu itu aku naik sepeda sehabis mengantarkan makan siang pada ayah yang sibuk di pelabuhan.
          Namaku Thian-Sa, namun orang-orang sering memanggilku Meimei. Aku tak tahu mengapa, padahal namaku Thian-Sa. Mungkin karena aku cantik, cerdas dan sedikit nakal. Meimei adalah bunga mawar liar yang cantik. Semua orang pasti pernah punya pengalaman melihat mawar merah liar yang tumbuh di hutan, menjadi mahkota keindahan yang luar biasa. Aku sering membantu memberi makan guru-guru yang ada di sekolahan tempat Cheng-Shu mengajar. Aku sangat mengagumi cara Cheng-Shu menerangkan banyak hal yang tak diketahui banyak orang, mulai dari dim-sum hingga burger, mulai dari kendang hingga gitar, mulai dari Sun Yat-Sen hingga Nietszche. Bagiku ia adalah guru tak cuma bagi siswa yang sekolah di Shu-Ko, tapi juga semua penduduk di sini.
          Ia jarang tersenyum. Bibirnya sering mengatup rapat ketika ia mendengarkan celoteh orang-orang desa. Ketika ia berbicara, sebuah aura keseriusan menyebar ke semua pendengarnya bagaikan terhipnotis oleh indahnya pengetahuan, filsafat, dan kokohnya pemikiran manusia. Ia masih sangat muda, hanya terpaut beberapa bulan dariku. Namun sepertinya kakinya telah melangkah sedemikian jauh. Sepertinya ia telah melihat seluruh keindahan dunia ini. Menurutku, orang menjadi kehilangan keceriaan yang berubah menjadi kekhidmatan setelah melihat banyak hal yang menunjukkan indahnya dunia tempat kita hidup ini. Kekhidmatan adalah keceriaan tingkat lanjut ketika hikmat dan kebijaksanaan telah bertemu. Kekhidmatan adalah energi yang luar biasa. Aku merasakan ini setiap kali aku berada di dekat Cheng-Shu.
          Suatu kali ia berkunjung ke rumahku. Ia membawa sekuntum mawar merah yang katanya ia ambil dari hutan di pinggir pemukiman. Merah dan cerlang sekali warna mawar itu. Aroma segar segera masuk ke hidungku dan aku sungguh merasakan sesuatu yang sangat berbeda saat itu. Diselingi  teh dan Pao-Ki kami bercengkerama. Aneh, seolah kami telah lama sekali saling mengenal. Ia sungguh jadi pujaan banyak orang tentunya. Caranya bercerita, selera humornya yang menggelitik. Leluconnya sungguh menggelitik dan suasana menjadi sungguh indah ketika ia bercerita tentang keindahan opera di Vienna ketika memperdengarkan karya komponis besar Perancis, Bizet. Opera yang bercerita tentang cinta, alang-alang, burung yang terbang bebas, dan angin sore yang sejuk. Ia mengaku belum pernah ke kota seni Eropa itu dan hanya banyak tahu dari DVD yang ia tonton dan beberapa situs di internet, namun bagiku ia seolah telah berada di sana bersama denganku.
          Sungguh sore yang berbahagia kunjungan pertamanya itu.
***

          Pertama kali aku ke rumahnya, Thian-Sa ragu-ragu menerima uluran mawar merah yang sengaja kubawa untuknya. Thian-Sa adalah perempuan yang sungguh indah. Parasnya yang putih dan kulit wajah yang memerah tersapu oleh angin laut yang sepoi. Aku baru enam bulan mengajar di tempat ini, dan pertama kali melihatnya adalah saat aku menetapkan hati untuk tinggal di desa kecil ini. Tingginya semampai. Rambutnya lurus hitam. Senyumnya dan keceriaan yang senantiasa tersungging di bibir tipisnya sungguh mempesonaku. Adakah perempuan yang lebih cantik dari gadis desa ini?
          Aku sudah melanglang buana hingga ke seantero Taiwan, Cina, Jepang, Korea, hingga Malaya, namun kecantikan alami baru kulihat saat ini. Aku senang berada di dekatnya. Kecantikannya menjadi ilustrasi imajinasiku akan bagaimana seharusnya kita menjalani hidup. Suatu hari ia pernah berkata, apakah artinya hidup buatku. Bagiku hidup adalah jalan menuju kematian. Sebuah jalan yang bisa setapak dan berbatu, bisa pula mulus dan lurus seperti jalan bebas hambatan. Kami banyak berdiskusi tentang berbagai hal.  Aku menceritakan padanya bahwa aku berbeda dengan banyak penduduk Taiwan karena beberapa tahun lalu aku telah dibaptis. Aku percaya pada Tuhan yang mencipta semesta alam, dan kita menemuinya melalui doa yang khusuk dan ia selalu hidup di hati, bukan di kuil, bukan di lautan, bukan pula entah di mana. Matanya berbinar ketika aku bercerita tentang hal ini.
          Ia menceritakan bahwa ia mungkin sama dengan kebanyakan orang di desa. Melihat agama sebagai adat dan tradisi hidup. Aku hanya tertawa saja saat itu. Kebanyakan orang memang sungguh merasa sudah paling ber-iman padahal ia hanya mengikuti tradisi orang tua dan keluarganya. Banyak orang merasa sudah sangat memahami hidup melalui pelajaran agama padahal ia hanya mencari pembenaran yang cocok antara kitab-kitab suci dan apa yang jadi pikiran egoisnya. Manusia suka memanggil Tuhan, padahal fakta banyak menunjukkan bahwa mereka yang paling setia pada Tuhan seringkali adalah pembunuh paling kejam – cerita perang salib dan kehancuran gedung pusat perdagangan dunia di Amerika adalah bukti sejarah yang sering terlupa ketika manusia menyembah Tuhan. Orang sering lupa bahwa penderitaanlah yang membuat kita bisa memahami kebahagiaan, rasa laparlah yang bisa memberi kita pengetahuan nikmatnya makanan, kemiskinanlah yang membuat kita sadar bahwa tak perlu bersombong dengan kekayaan, dan kesendirianlah yang membuat kita merasakan hangatnya kasih sayang. Pemahamanku akan agama baruku adalah perpaduan filsafat daerah asalku dengan ungkapan khotbah di bukit.

***

          Suatu pagi, Cheng-Shu datang ke rumahku. Hari ini hari libur nasional. Orang sibuk berarak-arak ke jalan-jalan kota. Cheng-Shu datang dan bertanya apakah aku ingin melihat tempat mekar tumbuhnya mawar yang pernah ia bawa untukku saat kali pertama datang ke rumahku. Aku mengangguk. Beberapa saat kemudian kami sudah berjalan beriringan. Kami susuri pantai masuk ke hutan yang pohonnya masih rindang meski sudah jarang. Ada sebuah muara sungai kecil di sana. Angin sepoi dan lembab menyusuri rambut dan kulit kuningku. Aku sempat bertanya, tentang kisah cintanya. Apakah ia pernah mencintai seorang wanita?
          Aku agak terkejut melihat kepalanya menggeleng lemah. Ia hanya berkata bahwa manusia seringkali harus membayar luar biasa mahal untuk cinta, kehormatan, dan kejujuran. Aku tak pernah merasakan hawa putus asa yang luar biasa seperti yang kurasakan pada Cheng-Su saat itu. Aku pegang tangannya dan ingin rasanya tanganku memeluknya. Aku mencintainya.
          Namun niat itu urung, tangannya menunjuk padaku semak belukar yang bermahkota sebuah mawar merah. Mahkotanya yang megah dan lebar dengan pengawal-pengawal duri yang tajam di rantingnya, “Meimei…. mawar liar merah!”, aku berseru dan sangat kagum pada keindahan mawar merah itu. Aku mendekati mawar merah itu, dan hal terakhir yang kuingat hanyalah sebuah gumaman yang pelan yang mirip gerutu, ketika sebuah benda keras menghantam bagian belakang kepalaku.

***

          Pagi itu adalah hari nasional, dan sekolah diliburkan. Aku tak begitu suka dengan keramaian yang ingar-bingar politik. Aku berjalan kaki ke rumah Thian-Sa. Kuajak ia ke hutan tempat mekarnya mawar yang pernah kubawa padanya. Ia mengangguk dan sambil mengenakan baju hangat yang berwarna merah itu kami berjalan bersama ke hutan. Ia sungguh ceria dan bahagia pagi itu. Setiap kali aku menoleh padanya, pandanganku selalu tertumbuk pada wajah yang menurutku sangat indah. Senyuman yang luar biasa, hidung yang indah dan mata yang berbinar cemerlang.
          Aku agak terkejut mendengar pertanyaannya, apakah aku pernah mencintai seorang wanita. Tentu tidak, dan mungkin ia tak percaya padaku. Aku tidak pernah mencintai keindahan selain keindahan yang terpancar dari dirinya. Thian-Sa adalah cintaku yang tunggal, bukan cinta pertama. Ia adalah kecantikan yang sanggup membuatku merasa hidup ini begitu menarik. Mungkin sama seperti bunga mawar yang tengah mekar itu. Ketika mawar itu kutunjukkan padanya, ia menciumi wangi mawar merah itu. Mawar yang indah selalu ingin dipetik orang, sementara orang yang jujur dan berkepribadian senantiasa diremehkan bahkan mungkin disalibkan. Cinta sejati selalu dikhianati dengan ketaksetiaan.
          Dan pagi itu aku melengkapi hukum alam ini, bahwa semua kecantikan dan keindahan harus musnah. Batu dalam genggamanku itu menghujam kepalanya yang tengah membungkuk di dekat mawar merah liar itu. Darahnya merah semerah mawar yang tengah mekar itu. Ia terjatuh tertelungkup. Kubalik tubuhnya. Mulutnya masih menggumam ketika aku melihat wajahnya yang indah itu. Aku berdiri dan memetik mawar merah liar itu. Aku berjongkok di dekatnya. Darah mengalir di belakang kepalanya, beberapa saat lagi ia akan segera meninggalkan dunia fana ini. Kuselipkan mawar merah itu di bibirnya.
          Ya..., mungkin tak akan ada yang jujur dan sepakat dengan yang kulakukan saat ini, padahal  orang-orang selalu melakukannya dalam bentuk yang lain. Tanpa sadar kita semua menjalani prinsip itu, bahwa semua keindahan harus mati…

Bandung, Januari 2007 - a fiction that is tributed to Cave and the Bad Seeds…

Dari Ave Maria ke Jalan Lain dari Mamre

       Malam ini malam yang kelabu bagi beberapa orang di mal ini. Kota yang tadinya selalu kedinginan diguyur hujan ini sebentar lagi akan panas terbakar oleh api, amarah, dengki, hujatan, dan darah. Aku berjalan terus membawa ransel yang kuperkirakan beratnya hingga empat kilogram itu. Dari rumah aku naik angkutan kota menuju stasiun kereta api. Kujemput pamanku pagi itu, dan beliau serahkan tas yang berat itu sambil mengucapkan salam yang disertai do’a.

       “Paman-mu nanti menyuruhmu mengantarkan paket ke Plasa Kota Indah?”, istriku bertanya sambil melipat mukenanya sehabis shalat subuh. Ia mematikan tape-recorder yang ada di dekatku yang sedang memainkan lagu kesukaanku yang memang kurang islami, Ave Maria karya komponis barat tua Franz Schubert. Aku mengangguk. Berbagai do’a kupanjatkan dari kemarin malam. Sejujurnya aku tidak tidur semalam suntuk dan karya Schubert ini telah sangat menenangkanku dengan cara yang sungguh aneh. Ave Maria adalah sebuah harapan orang-orang yang bersimpangan jalan dengan jalan Tuhan. Mereka memuja Bunda Maria, ibunya nabi Isa, mereka berdo’a, sesekali aku tersenyum, yang mereka butuhkan bukanlah sosok ibu yang suci. Ibu adalah sosok yang duniawi sekali, dan Maria adalah sosok yang duniawi yang digambarkan suci dalam hatinya. Aku tersenyum-senyum, seandainya mereka mengenal Nabi terakhir, mungkin ceritanya akan lain. Tak perlu menyucikan hal yang duniawi. Nabi terakhir adalah nabi yang sungguh mendunia, namun justru keduniawiannya sebagai seorang pemimpin masyarakat, seorang strategis, seorang politisi dan diplomat, sekaligus seorang ayah dan suami yang lemah-lembut adalah kekuatan syi'ar yang luar biasa...  Pry2

       Sebelumnya, aku baca seluruh kitab ini, sesekali kupandangi isteriku yang tengah terlelap. Tuhan belum mengaruniakan kami anak. Mungkin itu yang terbaik untuk takdir hidupku. Lelah membaca mendorongku untuk merangsang indera pendengaranku agar aktif, dan aku tiba pada Ave Maria. Sungguh apapun maksud penggubah untaian nada-nada ini, mala mini aku sungguh merasa sangat tenang mendengarnya.

       “Aha…, Arman, ini paket yang kukatakan padamu!”. Tergopoh-gopoh paman yang sudah kuanggap ayah spiritual-ku ini turun dari kereta kelas ekonomi yang kebetulan lengang itu. Sebelum kusentuh tas itu, lama aku pandangi ia, silih ganti antara tas dan wajah kuyu pamanku yang terkenal sebagai kiai yang sangat disegani ini.

       “Sulit membayangkan perdamaian dengan Amerika dan antek-anteknya di tanah air jika mereka terus-menerus menzholimi umat Muslim yang tak berdosa, tak hanya di Irak, di Indonesia, dan di manapun…!”, pamanku selalu vokal dan lantang berbicara tentang negeri yang kurasa makin lama makin sekuler ini. Beberapa waktu lalu pesantren tempatnya mengajar disatroni petugas keamanan. Pamanku dituduh memberikan perlindungan bagi buronan teroris. Ah, bagi orang kafir, mereka teroris, bagiku dan bagi pamanku mereka adalah syuhada. Martir di jalan yang benar. Aku tahu, jaringan pertemanan pamanku sungguh luas, dan dari kutbah-kutbahnya aku sadar, ia adalah seorang tokoh di antara pejuang-pejuang surga itu.

       Paman memang tak pernah berbicara denganku soal jaringan komunikasi yang dimilikinya. Entah mengapa ia begitu percaya padaku untuk berkiprah di ilmu dunia. Aku adalah seorang sarjana teknik saat ini dan tengah menempuh ujian menuju sidang magister. Hingga minggu lalu, pamanku mengirimkan surat, suatu hal yang telah lama sekali tak dilakukannya padaku. Isi suratnya penuh dengan do’a, dan sebuah perintah untuk membawa sebuah paket ke Plasa Kota Indah, di kota tempat tinggalku. Dari instruksinya aku memahami bahwa paket tersebut adalah sebuah bom. Dan paman pada akhirnya memilih aku untuk bersyuhada.

       “Jangan kau buka isi tas itu hingga nanti kau bertemu dengan orang yang berbaju koko putih yang akan menghampirimu dan memberikan instruksi lanjutan!”, tegas pamanku dalam suratnya. “Tugasmu ini sangat penting, anakku”, aku telah memilihmu untuk menjalankan tugas ini dengan memandang dirimu dan latar belakangmu dan semoga seluruh ibadahmu diterima oleh-Nya”.

       Aku bergegas. Sore itu dingin sekali. Aku berjalan dan mencoba-coba merasa-rasai bagaimana kira-kira bentuk bom yang tengah ada di punggungku ini. Apa kira-kira yang terjadi jika aku ada kesalahan, misalnya tas ini terjatuh tak sengaja. Beberapa kali aku ber-istighfar. Aku harus tawakal. Aku tak boleh berandai-andai jika telah berkenaan dengan perjuangan suci ini.

       Aku terus saja melangkahkan kakiku yang tak terasa mulai gontai itu. Tak terasa keringat mengucur deras. Aku duduk di bangku dekat lapangan parkir sebagaimana diperintahkan. Aku menunggu teman pamanku yang tak boleh kukenal. Berbagai skenario dapat saja terjadi. Aku akan mengantarkan tas ini pada pelaku bom, seorang pejuang Tuhan. Ia mungkin akan meledakkannya dalam waktu dekat di kotaku ini. Aku berdo’a dalam waktu tungguku.

       “Assalamualaikum!”, sebuah tangan yang bersuhu agak hangat menepuk pundakku. “Arman?”, suara itu menyebut namaku seraya aku melihat wajahnya yang lembut. Orang itu masih muda, berkopiah, berjanggut dan berkoko putih seolah baru pulang dari ibadah jum’at. Terbata-bata aku menjawab, “Iii..iiyaa…, pak”.

       “Maaf mengagetkan”, katanya lembut dan membantuku berdiri. “Saya belum makan, mari kita makan dulu, kamu sudah makan?”. “Ehm, belum ustadz!”, seruku masih belum tersadar antara rasa kaget, kagum, dan takut. “He..he..he.., kamu panggi saja saya pak Nurdin!”, ujarnya. “Hah, Nurdin?”. Aku seperti terbius dan kami berjalan ke arah dalam mall yang dipenuhi oleh banyak sekali orang.

       Selama berjalan, aku memperhatikan ia banyak melihat-lihat orang-orang yang ada di sekitar mall yang terkenal mewah itu. Kebanyakan memang warga keturunan. Kami berjalan, naik elevator, dan akhirnya menemukan sebuah tempat duduk di food court dan kami memesan bakso malang.

       “Itu paketnya, Arman?”, katanya seraya menunjuk pada tas yang masih ada di pundakku. Aku tergopoh-gopoh meski masih sangat hati-hati menurunkan tas itu dari pundakku dan menyerahkan padanya. Ia memegangi tas itu.

       Dari gerak bibirnya aku bisa tahu bahwa ia sedang merapalkan do’a tatkala ia memegang tas itu. Selang beberapa waktu, ia tersenyum padaku. Kemudian ia membuka kancing tas tersebut, aku sangat terkejut. Apakah, pak Nurdin ini akan meledakkannya saat ini? Bagaimana jika ada yang melihat kabel-kabel berseliweran dari tas itu?

       Belum banyak imajinasi dan praduga bermunculan, tiba-tiba tangannya masuk ke dalam tas tersebut dan mengeluarkan sebuah bungkusan putih. Ditaruhnya bungkusan putih itu di meja dan ia berkata, “Ini adalah warisan leluhur pamanmu yang baru saja ditemukan…”. Sebuah qur'an bertulisan tangan yang sepertinya telah berusia ratusan tahun diletakannya dengan sangat hati-hati di atas tumpukan tisu. Sungguh, tentu saja itu sangat berharga bagi siapapun bahkan bagi orang sekuler dengan memandang nilai historis yang ada padanya.

       Aku mau pingsan! Aku masih belum bisa percaya. Apa-apaan ini? Apakah aku bermimpi? Itu bukan bom? Seolah pak Nurdin itu membaca pikiranku dari ekspresi wajah, ia berkata “…kamu mengira ini bomPry?”.

       Hening! Aku tak bisa menjawab banyak. Sayup-sayup sebuah nada instrumental dimainkan oleh speaker pusat perbelanjaan ini. Ya, aku ibarat mereka yang mengucap Ave Maria ketika bimbang di persimpangan jalan di Mamre…

Bandung, Januari 2007

Murni, tak semua orang memahami kemurnianmu…

On_location_2           Di Plaza Dago Bandung ada 2 kafe yang saling berhadap-hadapan. Yang satu Kafe Ohlala yang buka dua puluh empat jam dan yang lain Kafe Excelso yang hanya buka hingga larut. Keduanya lumayan ramai saban hari. Banyak pengunjung. Tentu, karena salah satu opsi dari gaya hidup metropolis adalah nongkrong di kafe, tentu makin keren jika kau bawa PDA atau laptop-mu yang sudah ter-registrasi dengan internet hot-spot yang tersedia. Wow, keren. Eksekutif muda, pelesir sepulang kerja menghilangkan penat minum secangkir cappucino, menenteng PDA atau smartphone, pakaian kemeja santai.

          Demikian pula aku. Aku juga ingin tampil metropolis, dong. Sore itu dari tempat kerjaku, aku berniat nongkrong di salah satu kafe di Plaza Dago itu. Kutenteng PDA HP iPAQ-ku yang sudah di-charge penuh, di jalan keluar dari tempat kos, kulirik penampilan rambutku yang sudah oke, dua kancing kemeja paling atas kubuka, dan aku mulai berjalan mencari angkot. Ehem, di Bandung eksekutif juga biasa naik angkot, kok. Justru naik angkot lebih enak daripada taksi atau mobil pribadi, karena kesempatan untuk bertemu dengan mojang geulis jauh lebih tinggi tentunya.

          Setiba di Plaza, aku naik tangga dan memutuskan untuk nongkrong di Excelso, Ohlala terlalu ramai. Meskipun harga minumannya lebih mahal, aku pikir gak masalah. Aku duduk di sofa hitam yang empuk, dan seorang perempuan mendekatiku seraya menyerahkan daftar menu. Tidak kulirik wajahnya, aku langsung memilih minuman favorit relaksasi-ku, capuccino karamel dan sepiring kecil kentang goreng. Seraya mengembalikan menu padanya, aku tertegun. Wajah pelayan Excelso ini luar biasa cantiknya. Ia tersenyum sambil berlalu. Aku tak habis pikir. Cantik sekali orang ini…

          Keesokan harinya aku ke sana lagi. Bukan untuk melihat si gadis manis, tetapi ada teman mengajak bisnis ikan gurame dan mau ngobrol di Kafe Ohlala. Aku beberapa kali melirik ke kafe seberang, tapi si gadis tak kunjung terlihat. Pembicaraan pun berlangsung, tak lupa tentu, PDA diletakkan di atas meja, sekadar untuk menunjukkan bahwa pertemuan ini pertemuan bisnis.

          Sialnya, ketika kami hendak berniat pulang, hujan turun dengan derasnya. Temanku telah pulang duluan, ia naik mobil pick-up-nya. Maklum, dia itu pengusaha merangkap pemilik saham, direktur, manajer, personalia, dan distributor ikan sekaligus. Aku berniat menerobos saja hujan ini, dan ketika aku melewati tempat masuk kafe Excelso, aku melihat si gadis manis seolah telah menungguku di sana. “Mau singgah dulu, Mas?”, ujarnya ramah sambil tersenyum yang cukup memaksa jantungku berdegup lebih kencang. Seperti terhipnotis, aku mengiyakan. 

          Aku pingin sekali berkenalan dengan gadis manis ini, ah, setidaknya untuk melihat wajahnya pun aku sudah terhibur.
Ia antar aku ke mejaku dan menyerahkan menu. Aku duduk dan sekarang aku ingin memulai satu pembicaraan.

          “…wah hujannya lumayan ya?”, kataku.
          “…eng… iya. Mungkin mas mau minum yang hangat?”.
          “…boleh, minta karamel cappucino hangat ya?”.

          Ia berlalu dan kulihat kafe ini sungguh sepi. Suasananya lengang. Beberapa menit kemudian dia datang, dan aku sedang pura-pura sibuk dengan PDA keren-ku. Aku lega, cukup banyak e-mail spam yang masuk ke inbox-ku. Aku jadi merasa sangat menggunakan PDA yang biasanya hanya kugunakan untuk SMS dan untuk mencatat barang keluar-masuk dengan spreadsheet di kantor.

          Aku menyilakan si gadis manis itu menaruh minuman pesananku.

          “…sepi ya?”
          “iya, mas. Mungkin karena hujan…”
          “…tadinya saya juga mau langsung pulang, terus jadi singgah karena kamu panggil”, kataku sekenanya sambil terkekeh cool.
Wajahnya memerah dan tersipu.

          “…eh, kamu gak sibuk ‘kan? Temenin sebentar ah, saya tadi sudah on-line di kafe sebelah, jadinya sekarang gak ada kerjaan nih”.

          Dia menurut dan dialog perkenalan pun terjadi. Sesekali ia tertawa mendengar cerita humor-ku yang kadang agak garing. Kami bercanda-canda, saling menggoda. Harus kuakui, aku memang cukup pintar memikat hati perempuan.

* * *

          Hari ini, sudah tiga minggu semenjak aku berkenalan dengan Murni. Selama ini aku sering menungguinya di kafe sambil menyeruput kopi yang hingga saat ini sudah mulai terasa melukai dompetku. Sudah beberapa kali aku antar dia pulang. Ia tinggal sekitar satu kilometer dari Plaza Dago, kos. Orang tuanya di Tasikmalaya, dan gajinya  di Excelso cukup buat membiayai sekolah adiknya. Tipe perempuan sempurna, pikirku.

          Setiap kali mengantarnya pulang, kami berjalan kaki. Udara bandung yang sejuk, suara-suara cempreng pengamen jalan Dago Bandung, serta temaramnya lampu jalan sungguh membuat kami berdua bak berjalan di mahligai plasa surgawi. Dua minggu lalu, aku gandeng tangannya. Mungkin mulai saat itulah kami bisa dikatakan berpacaran. Aku telah jatuh hati padanya.

          Seperti malam-malam sebelumnya aku menunggu jam tutup kafe sambil menghapus e-mail spam di PDA-ku yang keren. Setelah kasir ditutup, Murni duduk di sebelahku sambil memegangi lenganku yang harus diakui cukup seksi. Aku log-out dan beranjak. Lagi-lagi aku menikmati senyumannya yang sungguh indah. Aku heran juga, mengapa aku tak bosan melihat wajahnya. Mungkin ia perempuan tercantik yang pernah kulihat. Mulai dari matanya, pipi dan hidungnya yang mungil, bibirnya yang tipis dan jari tangannya yang putih dan lentik. Setiap hari aku selalu takjub akan pesonanya. Dan aku merasa sangat beruntung.

          Sepanjang perjalanan pulang ia mulai menceritakan sebuah permasalahan keluarganya. Ternyata, adiknya yang ia biayai terjebak narkoba. Sungguh memilukan, apalagi melihat ada air menggenang di pelupuk matanya. Terkadang aku bingung, aku sedang ikut bersimpati atau malah menikmati kecantikan wajah makhluk indah ini.

          Setiba di kosan-nya yang lebih mirip paviliun itu, aku ikut masuk. Biasanya ia menyuguhkan teh hangat sebelum aku pulang. Sekarang, sambil terus bercerita kami duduk di meja kecil dekat tempat tidurnya. Ia duduk di sampingku sambil bersandar di pundakku. Aku rangkul pinggangnya yang molek. Sambil mendengarkan ceritanya, aku nikmati pandangan sekeliling kamarnya. Kulihat sebuah foto album yang setengah terbuka.

          “Album foto-foto apa itu?”
          “…ah enggak itu kerjaan iseng bekas teman se-kosan. Psikopat dia…, ” ia bercanda dengan senyum lucunya.

          Aku kaget melihat isi foto album itu, fotonya adalah foto korban-korban pembunuhan. Bersimbah darah. Ada juga beberapa kliping koran yang memberitakan berbagai kasus pembunuhan yang tak terungkap. Aku bergidik. Dan perasaan seram hilang, ketika ia memelukku dari belakang. Aku berbalik dan kami berciuman. Sungguh indah malam itu…

* * *

          Sore itu PDA-ku berdering. Murni menelepon dan bilang ia tidak masuk karena kurang enak badan. Aku bergegas ke kosan-nya. Di sana kudapati ia tengah duduk lemas di kasurnya. Kupeluk dia dan aku merasa sangat nikmat. Cukup lama kami bermesraan. Ia menyuguhkan teh.

          Sementara aku menyeruput teh hangatnya, ia coba-coba 24 melihat-lihat PDA-ku. Di sini kesialan mulai muncul. Ia masuk ke folder mantan-mantanku dan beberapa cewek yang tengah kutaksir di jaringan Friendster dan sering berkomunikasi a la Yahoo messenger. Ia menggerutu, apalagi setelah dia melihat ada sebuah draft surat elektronis-ku yang cukup mesra di sana. Aku mulai menjelaskan. Tapi aneh, kami tidak bertengkar. Sembari aku mencari cara untuk menjelaskan tradisi genetika yang ada pada diriku sebagai pejantan tangguh, ia diam.

          Kemudian hening. Lalu ia tersenyum dan memelukku. “Aku percaya sama kamu, sayang…”, bisiknya sambil mencium daun telingaku. Kupeluk kekasih-ku ini. Sungguh aku sangat beruntung.

          Beberapa saat kami ngobrol ringan, ia lalu beranjak hendak mandi. Badannya sudah baikan, dan sore ini aku ingin mengajaknya makan malam. Aku duduk melamunkan indahnya wajahnya sambil mulai membanding-bandingkan ia dengan Lusi, Rahma, Susan, dan Fitri. Ah, ini gadis terbaik yang kutemui, cantik, baik, dan sangat pengertian. Aku jadi ingin menjaga kesetiaan padanya. Kalaupun aku terkadang tak setia, akan kupastikan itu bukan cinta; hanya nafsu semata... Cintaku hanya untuk Murni.

          Selagi aku tersenyum-senyum berbangga, sebuah benda keras menghantam kepalaku. Aku tak sadarkan diri…

          Entah berapa lama aku pingsan, yang jelas setelah tersadar tangan dan kakiku sudah terikat, mulutku tersumpal. Aku lihat Murni berjongkok dan tersenyum. Aku menjerit tapi sumpalan di mulutku meredamnya dengan sangat baik. Aku lihat sekeliling, PDA-ku hancur berantakan terpukul martil. Ada bercak darah di martil itu, mungkin itu tadi benda yang memukul kepalaku hingga pingsan. Aku lihat pintu kosnya. Sekeliling pintu dan jendela telah tersumpal kain yang meredam suara agar tak terdengar ke luar. Aku meronta-ronta.

          “Aku mencintaimu, Agus…”, katanya pelan padaku. “Aku mencintaimu dan aku ingin agar aku selalu bisa mencintaimu. Aku ingin agar aku selalu bisa mencintaimu selagi engkau masih selalu terpesona oleh aku”. Aku meronta. Bagaimana mungkin ia mencintaiku tapi aku malah disiksa begini! Aku berteriak-teriak minta maaf dan berusaha ingin menjelaskan lagi tentang dokumen-dokumen di PDA-ku, tapi tentu tak ada vokal yang jelas yang terdengar.

          Kulihat di tangannya sebilah pisau yang lumayan besar di genggaman jari lentiknya. Dan sekali gebrak, ujung pisau yang tajam itu telah menancap di perutku. Pandanganku agak kabur dan rasa sakit luar biasa terasa sungguh mengerikan. Aku masih melihat genangan darah yang mengucur deras ke lantai. Aku lihat di kejauhan Murni duduk di kasurnya. Tanannya memegang secangkir teh. Ia hanya mengenakan pakaian dalam.

          Ia tersenyum. Aku menjerit sekuat tenaga. Aku akan mati malam ini…

          Jika saja, ada ahli forensik yang memeriksa pandangan terakhir dari mataku yang membeliak sesaat sebelum ajalku, mungkin di retina mataku akan terlihat wajah yang sungguh indah, menawan, elegan, dan cantik luar biasa. Tapi itu hampir tidak mungkin. Jasadku tidak lagi utuh sekarang. Bagian-bagiannya tersebar di mana-mana. Mataku telah dikerubuti ikan-ikan di kali, kakiku dibuang di Cicaheum, kepalaku ditemukan di Siliwangi, bagian perutku dibuang di penampungan sampah Caringin, dan seterusnya… dan seterusnya, meski tak juga menutup kemungkinan beberapa bagian tubuhku sudah masuk ke saluran pencernaannya, aku tak tahu dan tak mau tahu lagi.

          Mungkin foto album yang kulihat ketika masih hidup itu adalah lelaki-lelaki seperti aku. Yang tak pernah puas dengan satu wanita. Yang haus akan belaian wanita. Sementara Murni mungkin benar-benar seorang bidadari di luar dan di dalam dirinya, yang senantiasa tulus mencintai. Oh, Murni, jika memang engkau penuh amarah dengan lelaki sepertiku, harusnya engkau sadar, tak semua orang bisa memahami kemurnian hatimu… bahkan mungkin tak ada… lagi.

Bandung, Medio November 2006

Natal Fatimah

Malam itu malam natal. Sepi. Karena memang daerah tersebut tak memedulikan natal atau tidak. Suasana natal tahun ini terjerembab oleh hiruk pikuk lebaran. Ya, natal di tengah mayoritas islam. Seorang perempuan tua duduk memeluk anaknya di tengah jalanan yang kumuh dan dipenuhi pengemis kota itu. Ia berdiam diri saja di sana, berusaha menyerap kalor dari tubuh anak laki-laki yang dipeluknya itu.

          Wajahnya kotor, badannya bau, dan sekarang natal. Jauh dari jangkauan sinterklas, jauh dari jangkauan kemewahan kebaktian natal vatikan. Lapar, dan ia hanya menunggu saja sisa makanan di tepi luar halaman gereja yang sedang mengadakan kebaktian itu. Sekeluarnya jemaat, ia akan pasang tampang sesedih mungkin, siapa tahu ada jemaat yang tersentuh hatinya oleh kutbah pendeta yang berupaya mengetuk pintu hati jemaat untuk membantu mereka yang miskin papa seperti dirinya, di tengah kemewahan bangunan gereja, di tengah kemegahan pohon natal yang mencakar langit-langit gereja, di tengah mimbar yang mewah dan terbuat dari kayu jati pilihan, di tengah hiasan-hiasan yang membingkai foto Yesus yang masih bayi dan dipeluk Maria itu.

          Seketika jalanan di luar gereja itu hiruk pikuk. Bukan demonstrasi, tapi kebaktian baru saja berakhir. Semua jemaat Xmas_tree2 kelihatan berwajah ceria, gembira, entah karena mengenakan baju baru yang cantik, entah karena Yesus telah lahir, entah karena dirinya merasa diselamatkan, entah karena ia akan menikah sebentar lagi, atau entah karena apapun. Semua tak dipedulikan oleh Fatimah, perempuan tua yang menggendong anaknya. Ia hanya butuh sedekah atau kalaupun tidak, tumpukan sisa makanan di tong sampah dekat gereja itu.

          Raungan sirene di mana-mana. Karena memang natal harus diamankan oleh tentara atau polisi. Masyarakat sekarang ini mudah dipicu konflik. Kita memang dipelihara oleh hipokritnya dunia. Seolah damai padahal begitu gampang mengangkat parang. Tapi itu semua tak dipedulikan Fatimah yang sedari tadi tak menerima sesen sedekah pun. Ia heran, entah apa yang tadi dikutbahkan pendeta hingga sekarang tangan kotornya sama sekali tak ditanggapi jemaat gereja, semua cuek bagaikan bebek.

          Fatimah sudah tak tahu lagi ia beragama apa sekarang. Mungkin islam kalau lebaran, tetapi sekejap kristen kalau natal. Semua tergantung mana yang bisa memberinya makan, karena memang tuhan dan malaikat itu tak pernah memberi ia makan. Orang-orang kaya yang beragama dan bermorallah yang memberi ia makan.

          “Mama, lapar!”, anaknya berbisik.
          “Sabar, kita sedang menunggu....”
          “Mama lapar!”
          “Sabar!”
          “Mama lapar!”
          Ia diam saja. Tangannya terus dijulurkannya ke siapapun yang mendekat.

          “Mama, baju mereka bagus!”
          “Ya...”
          “Mama...”
          “Diam!”, potong Fatimah.

          Sudah dua jam ia berdiri, satupun tak ada yang memberikannya sedekah. Ia heran sekali. Baru sekali ini ia tak diberi orang beragama makan, ada apa dengan orang beragama sekarang?

          Akhirnya suasana lengang di malam natal itu tiba. Semua sudah pulang. Hening. Fatimah berjalan tertatih-tatih menjauhi bangunan yang baginya seperti rumah setan itu. Seorang lelaki yang mungkin sedang mengemis juga duduk diseberang sana. Ia tertawa-tawa. “Ha ha... tak dapat sedekah, hah?!”

          Fatimah hanya berlalu. Sudah buntung, masih saja bisa tertawa-tawa. Keparat, memaki orang pula. Ia tak mempedulikan ocehan lelaki itu, apa ia tak merasa sakit dengan luka kakinya yang penuh darah dan nanah itu. Ia cuek saja.

          Fatimah mulai mengais-ngais sampah. Heran, apakah malam natal tahun ini adalah malam celaka? Ia tak menemukan sesuatupun untuk bisa dimakan. Isi tong sampah hanya plastik-plastik bekas bungkus baju baru orang-orang kaya itu. Heran...

          Fatimah terduduk. Ia membelai rambut anaknya. Ia duduk dan merenungi nasib, berdoa kepada siapapun agar memberinya makan, kalau tidak buatnya, minimal buat putranya yang baru berusia tujuh tahun dan sedang sakit itu.
          “Mama, aku lapar!”
Fatimah terdiam saja.
          “Mama, kita agamanya apa?”
Fatimah hanya tersenyum kecut.
          “Mama adakah surga itu? Kita takkan kelaparan di sana bukan?”
          “Ya, di surga semuanya begitu enak, kita tinggal minta pada Tuhan”
          “Tuhan itu baik, ya Ma! Ayo kita ke surga!”
          “Ah, belum saatnya, Nak!”

Tiba-tiba puteranya keluar dari gendonganya.
          “Mama, mana kakiku satu lagi?”
          Bagaikan disambar kilat, ia terkejut setengah mati melihat kaki anaknya buntung satu.
          Bagaikan disambar halilintar, ia terbawa ke masa silam. Bagaikan loncatan kuantum ia terkejut setengah mati, ia teringat tengah malam sebelumnya ada orang gila ngebut dan menggilas kaki anaknya yang sedang tiduran di jalan raya dan bermain-main. Ia baru sadar bahwa kemarin tatkala berteriak-teriak memanggil bantuan, si pengendara mobil keluar dari mobilnya, sambil membawa pisau dan....

          Ia memegang perut bagian bawahnya. Ia merasakan sebuah lubang besar bekas tusukan. Ia bagaikan tak sadar. Sudah matikah ia? Ia merasa sangat terguncang, dan segera memeluk anaknya yang tengah berdiri di depannya. Ia peluk anaknya, ia menangis. Anaknya heran.

          “Mengapa menangis?”
          Fatimah hanya terisak-isak, tak percaya pada keadannya sekarang.
          “Aku tak takut, Mama. Biarpun kakiku buntung, Mama tak perlu sedih, Tuhan akan segera menyembuhkan kakiku, Tuhan akan menumbuhkan kakiku lagi, nanti di surga!”
          Fatimah menjerit....

          Dicengkeramnya anak kesayangannya itu. Dipeluknya sekuat tenaga.
          “Anakku, Sayang, aku tak tahu kita di mana sekarang. Aku bahkan tak tahu apakah surga itu ada atau tidak.....”

Malam itu malam natal. Semuanya terlihat biasa saja. Pengemis, pencopet, sopir, dan semuanya. Tuhan yang entah di mana sedang lahir atau hidup, semua tak peduli, karena sekarang malam natal, natal di restoran, natal di televisi, natal di radio, natal di tiap hati mereka yang masih hidup...

Bandung, 24 Desember 2001

Seksual…

Telah terjadi ledakan besar di kompleks kampus ini. Rufus Kemal, sang kepala kepolisian membuka lembar demi lembar buku tulis yang setengah terbakar ini. Untungnya kertasnya terbuat dari polimer tahan panas. Ini catatan profesor yang diduga meledakkan seisi kampus ini. Profesor genius ahli fisika-arkeologi eksperimental terkemuka di dunia, Albert Schlinder, peraih hadiah Nobel klasik untuk ilmu eksperimental interdisiplin atas keberhasilannya mengkonstruksi robot yang sangat mirip manusia yang baru diumumkan minggu lalu. Mungkin bukan sembarang manusia, manusia yang dibangkitkannya adalah manusia dari zaman yang sangat kuno. Kolonel Kemal mulai membaca...

30 Mei 2145
          Mungkin hal yang paling kucintai di dunia ini setelah isteri dan anak-anakku adalah sains. Sains bagiku ibarat seks. Kenikmatan menemukan sesuatu yang baru dalam sains itu ibarat orgasme, hanya saja lebih lama. Dan kenikmatan itu berhasil kuperoleh kemarin siang. Buah kerjaku selama lima belas tahun terakhir menjadi orang paling tidak disukai di kampus ini. Err, mungkin satu-satunya yang masih percaya padaku adalah isteriku. Aku bukan orang yang percaya pada mitologi cinta seperti kakek moyangku, tapi aku benar-benar menyayanginya.

          Kemarin, aku berhasil mengkonstruksi tubuh manusia dari zaman Pleistosin sebagaimana aslinya. Wow! Teknologi yang digunakan adalah teknologi yang kutemukan sepuluh tahun lalu dan sekarang sudah sering digunakan pada artificial prostitution yang marak akhir-akhir ini. Banyak ahli etika yang meributkan status kemanusiaan penjual cinta di prostitusi buatan itu, tapi aku tentu tak perlu peduli. Sepanjang karyaku disukai pria dan wanita hidung belang yang haus seks, aku hanya menikmati royalti atas paten karyaku itu.

          DNA dari rambut yang berusia jutaan tahun itu ku-rekonstruksi menghasilkan tulang, otot, mulut, indera, kaki, tangan, dan semuanya sebagaimana aslinya. Dan final approach-nya adalah mencocokkan sirkuit elektronis yang kutanam ke kepalanya. Kita mesti hati-hati memasangnya, sebab hanya beberapa ratus tahun saja, proses evolusi telah lumayan banyak mengubah struktur nano-sel dan jaringan manusia. Dan kami, aku sebagai tim eksperimentasinya berhasil!

          Aku baru menceritakan dampak-dampak penemuan ini pada isteriku, Helena. Beberapa kali ia memelukku. Ia ingin segera melihat hasil kerjaku. Saat ini, Okos, nama yang kuberikan pada manusia Pleistosin jadi-jadianku itu sedang istirahat mengadaptasikan tubuhnya dengan sirkuit bertenaga matahari yang tersimpan di tempat yang seharusnya tempat otaknya yang kecil itu. Besok, Okos akan kubawa pulang, dan biarkan Helena dengan bangga melihat hasil kerjaku. Ah, senangnya…

31 Mei 2145
          Okos kubawa ke rumah. Okos bukanlah tipe manusia beberapa puluh tahun lalu, ia berasal dari sekitar 1,8 juta tahun lalu. Ia tidak seperti kita yang sudah bervariasi makanannya, mulai dari makanan cepat-saji, coklat, mie rebus, roti, biskuit ini itu, dan sebagainya. Ia juga bukan tipe manusia seperti kita yang selalu kedinginan ketika sedang berkemah di pinggir gua. Bukan! Okos adalah tipa Homo Sapiens yang menu makannya sungguh sempurna. Dari pengamatan medis dan studi literatur yang kami lakukan, mungkin ia terbiasa makan sekitar sembilan kilogram buah dan sayuran segar setiap hari. Sangat mungkin juga dia makan sekitar dua kilogram daging mentah. Daging mentah liar yang bebas lemak dan luar biasa kadar proteinnya. Keturunan Okos yang makan beras hasil pertanian pertama kali mungkin sepuluh ribu tahun kemudian.

          Yup! Okos adalah seorang pria bertubuh tegap, sigap, terbiasa dengan fitness yang lebih dari cukup bahkan untuk atlet zaman sekarang. Bedanya dengan pada zamannya dulu, ke dalam sirkuit di kepalanya telah kutanam sirkuit keterampilan berbahasa. Ia bisa bicara, meski agak sedikit terbata-bata.

          Helena takjub memandangi Okos. Ia menghidangkan sepiring mangga segar sebagaimana kupesankan padanya, langsung dari kebun hidroponik keluarga kami. Hebatnya, Okos sepertinya cukup cepat beradaptasi dengan sirkuit yang kupasang. Ia sudah bisa bercanda dengan kami. Ia memuji kelezatan mangga yang dihidangkan. Ia juga memuji Helena yang memberinya sebuah kado: sebuah baju yang pas untuk ukuran tinggi badannya yang dipenuhi oleh otot-otot. Lama kupandangi Okos, ia memang ganteng, bahkan untuk zaman sekarang, mungkin mirip bintang film Holywood. Aku senang sekali melihat ia bercanda dengan kami.

30 Juni 2145
          Hari ini ada empat orang panitia Hadiah Nobel datang ke rumahku. Mereka mengatakan bahwa aku dinominasikan mendapatkan hadiah Nobel untuk bidang yang baru dibentuk sekitar lima belas tahun lalu, Nobel untuk Ilmu-ilmu Eksperimental Interdisiplin. Rekonstruksi pra-sejarahku atas tubuh Okos adalah alasan utamanya. Aku sangat gembira. Di usia yang masih terbilang muda, baru 39 tahun, aku sudah dinominasikan Nobel.

          Helena kuberitahu soal ini barusan. Ia langsung memeluk dan menciumiku. Ia mulai sibuk berfikir tentang tuksedo yang akan kupakai ketika berangkat ke Norwegia Desember nanti. Agak sulit memang mencari tuksedo yang pas buat tubuhku yang kebanyakan makan makanan siap-saji ini. Tubuhku beberapa tahun ini melar ke kiri dan ke kanan, sementara kacamataku makin hari makin tebal saja. Keriput pun mulai bermunculan. Otot-ototku tak bisa dibandingkan dengan manusia yang baru ku-rekonstruksi, Okos. Ah, tapi aku tahu Helena tak mencintaiku karena bagaimana aku terlihat. Helena tentu bukan perempuan seperti zaman Pleistosin yang berotak udang. Evolusi manusia telah menciptakan simetri antara laki-laki dan perempuan.

          Helena adalah seorang guru. Ia bukan profesor seperti aku. Tapi jika kita bicara soal reduksi, Helena tertarik padaku tentu bukan karena penampilanku, ia tertarik karena kemampuan intelijensiaku. Setidaknya itu kata para ahli psikologi evolusioner zaman sekarang. Padang belantara, tempat pemilihan seksual atas laki-laki oleh perempuan telah berubah saat ini menjadi banyak hal, mulai dari seni dan ilmu pengetahuan. Makhluk hidup ber-evolusi secara seleksi alam dan seleksi seksual sekaligus. Ketika burung merak belum punah dulu, para jantan mengepakkan ekornya dan menunjukkan ornamen mana yang paling indah dari mereka kepada seekor betina yang memilih pasangannya. Demikian pula manusia, pada zaman pleistosin, Okos harus bersaing dengan rekan-rekannya sesama jantan untuk menunjukkan siapa yang paling berani dan kuat. Melihat postur tubuh Okos, aku yakin ia adalah favorit para wanita zaman-nya. Namun Okos, ketahuilah, saat ini justru sosok seperti akulah yang menjadi favorit. Tak begitu tampan, namun setidaknya tidak malu kalau aku harus menekan tuts-tuts piano atau menerangkan beberapa konsep teori fisika hipermodern dalam pendekatan biologi molekuler.

          Aha, Helena memanggilku. Tuksedo-ku sudah jadi sepertinya.

Kolonel Kemal masih terus membaca. Dibolak-balik lembar demi lembar halaman yang penuh curahan hati sang profesor. Hingga sejenak ia tertegun kaget membaca sebuah halaman yang penuh amarah dan kepedihan.

4 Juli 2145
          Hari ini hari terkutuk dalam sejarah hidupku!!! Setan alas!!! Aku hanya berangkat mengajar ke sekolah musim panas selama sebulan, dan telah banyak hal berubah. Gila!! Tadi pagi Helena terisak-isak dan ia mengaku telah beberapa kali berhubungan seks dengan Okos selama aku pergi.

          Setan! Ia bahkan tak berhenti dan menyesal. Sialan! Ia mengatakan bahwa ia bahkan tidak lagi menikmati hubungan suami-isteri yang kami lakukan kemarin setibanya aku dari Afrika! Ya ampun… bagaimana mungkin Helena tertarik pada Okos…

          Batang demi batang rokok yang terlarang ini kuhisap terus dan membuat aku tersadar. Okos memang adalah tipe manusia sempurna pada zamannya, dan penampilannya saat ini memang masih up to date! Gila… Helena merelakan rasa cinta dan setianya untukku demi manusia jadi-jadian itu?

          Aku tak menemukan Okos di ruang kerjaku, di taman rumah, dan di manapun. Helena juga. Mereka berdua telah pergi. Sebuah surat kubaca di kasur di atas tuksedo untuk seremoni Nobel-ku. Di situ Helena mengatakan takut menyakitiku. Di situ ia menceritakan bahwa ia telah memilih pergi dengan Okos, manusia yang tak lebih dari avionik di lokalisasi prostitusi untuk perempuan nakal.

          Astaga! Apakah Helena sedangkal itu? Aku tak kuat lagi. Aku frustasi hebat! Ini gila!

7 September 2145
          Sudah sebulan Helena pergi tanpa ada kabar. Sia-sia aku berharap ia kembali. Ia sudah jauh. Bagiku ia adalah setan sekarang. Dan aku tinggal akan menekan tombol ini. Tombol pelumat seluruh isi gedung kampus bertingkat seratus ini. Aku yang membangun kampus besar ini, dan buah kerya tanganku di kampus ini telah melukaiku. Biarlah semuanya hancur… Semua hampa…

Kolonel Kemal masih membaca. Seorang wanita dan seorang pria tegap yang tengah merangkulnya mendekat. Wanita itu sungguh cantik bahkan di mata sang kolonel. Ada setitik air mata terlihat di pipinya. Lelaki itu mengulurkan tangannya. Ia menyebutkan namanya, “Okos”. Sang kolonel memandanginya lama bergantian dengan si wanita yang tersedu-sedu itu. dan tak kunjung sang kepala polisi menerima uluran tangan lelaki tegap dan berparas selebritis itu. Miller

          Sang kolonel menutup buku catatan harian yang ada dipegangannya. Ia berpaling meninggalkan dua sejoli itu. Tak sadar sehelai potongan kertas kuning yang mungkin sudah berumur ratusan tahun terjatuh dari buku itu.

          Perempuan yang berurai air mata itu memungut kertas tua peninggalan suaminya itu, dan ia terjatuh pingsan setelah membacanya… sebuah sobekan dari sebuah buku yang terbit pada tahun 2002... hampir seratus lima puluh tahun lalu...

…the false side of the runaway brain sexual-selection theory is that in our evolutionary process, it should have produced large-brain and hyper-intelligent males, and small-brained and ape-minded females among human population.

Bandung, Medio Februari 2005

Orang penting

Angkt_1           Sopir angkot itu terus saja membanting setirnya. Jalanan macet. Bau peluh memenuhi angkutan kota kecil ini, sesak oleh nafas dan keringat orang-orang. Seorang ibu menggendong anaknya yang mulai gelisah. Bapaknya yang duduk di sebelahnya mengukir senyuman yang dibuat-buat untuk menghibur anaknya. Berdesak-desakan. Aku membenarkan letak pantatku, berusaha untuk memberikan kenyamanan buatku sendiri. Sempit, gerah, memang demikianlah dunia, pikirku. Seorang penumpang yang duduk di depan, di sebelah sopir, seolah tak peduli menyalakan rokok. Suasana makin gerah, terkadang manusia memang tak punya toleransi. Aku mulai memutar mp3-player-ku, dan suara manis Faith Hill bersenandung,

Somewhere over the rainbow
Way up high
There's a land that I heard of
Once in a lullaby

          Tiba-tiba jalanan seolah lancar. Angkot perlahan-lahan mulai melaju pelan. Meski lajunya lebih lambat daripada jika aku berjalan santai, tapi itu cukup. Laju pelan itu cukup untuk melewatkan angin sepoi ke dalam angkot dan memberi oksigen baru buat orang yang mencoba bersabar dan menghibur diri di dalamnya. Pelan sekali ia berjalan. Ibarat konvoi, lalu lintas memang luar biasa macet di tengah cuaca yang luar biasa panas ini.

          Hingga tiba-tiba angkot itu berhenti lagi, cukup lama. Aku celingukan, ada apa gerangan yang menambah kemacetan ini. Belum lagi mataku tertumbuk pada ikhwal penyebab kemacetan lalu lintas, sebuah suara sirene terdengar keras. Sirene itu makin lama makin keras, meninggi diiringi suara deru suara sepeda motor dan mobil yang akrab di mata kita, bertuliskan “patwal polisi”. Tak lama kemudian, melajulah sebuah mobil hitam berkaca ray-ban tebal. Dari pelat mobilnya ketahuan, itu mobil seorang pejabat setara menteri. Jalanan macet telah menjadi macet, demi kelengangan mobil seorang pejabat.

          “Ada apa, ibu?”, si anak bertanya pada ibunya.
          “Ada orang penting lewat…. Itu mobilnya, bagus ‘kan?”.
          “Apa itu orang penting?”, si anak bertanya lagi.
          “Orang yang dihormati. Pejabat tinggi. Orang hebat itu…”, bapaknya menimpali.
          “Berarti jalanan macet karena orang penting lewat?,” lagi-lagi anaknya bertanya.
          “ Iya atuh, kalau orang penting lewat, orang kecil musti mengalah”.
          Sejenak diam. Sirene meraung-raung, dan konvoi orang penting itu melaju cepat, tak peduli pada mata orang-orang di dalam angkot yang kutumpangi memandanginya dengan berbagai macam perasaan.

          “Kenapa kita mesti mengalah kalau orang penting lewat?,” anaknya bertanya lagi.
          “…karena memang begitu seharusnya. Kalau orang penting lewat, orang kecil harus mengalah…”, acuh tak acuh bapaknya menjawab. Anaknya terdiam, setengah bergumam ia menyeletuk, “…wah, enaknya jadi orang penting ya…”.
          Giliran ibunya menjawab, “makanya kamu harus rajin belajar di sekolah, rajin membaca, rajin mengaji di masjid, biar jadi orang penting”. Bapak si anak ikut menimpali, “…iya, kalau kamu rajin nanti bisa jadi orang penting, dan ketika kamu udah besar nanti orang harus mengalah sama kamu…”.

          Aku termenung mendengar diskusi itu. Entah apa yang kupikirkan saat itu. Aku agak terhibur saja ketika si orang penting sudah jauh melewati kami, angkotnya bisa jalan merayap lagi dan membiarkan anging sepoi panas menyapu kulit wajahku yang sudah sangat berminyak. Faith Hill masih bersenandung terus,

Somewhere over the rainbow
Skies are blue
And the dreams that you dare to dream
Really do come true


          “Kalo mengaji ‘kan buat jadi orang baik, bukan orang penting?”, lagi-lagi anak itu bertanya. “Iya, kamu bisa jadi orang penting kalau terlihat baik sama orang ‘kan?”, kata bapaknya. “Kalau kamu tidak terlihat baik agamanya, nanti kamu gak akan bisa jadi orang penting….” Anaknya mengangguk. Aku sangat tidak yakin kalau dia mengerti.

          Aku keluar dari angkot, dan melangkah masuk ke dalam ruangan ber-AC yang benar-benar menyejukkan sekujur tubuh. Kucari toilet. Di dalam toilet, aku mencuci mukaku, membuka tas-ku dan mengganti kemejaku dengan yang baru dicuci. Tak lupa kukenakan dasiku. Semprot parfum di ketiak kiri dan kanan, dan aku melangkah keluar. Siang ini aku ada janji bertemu dengan seorang menteri, seorang orang penting yang kebetulan satu almamater denganku. Aku tersenyum sendiri membayangkan obrolan orang tua dan anak tadi.

          Sembari menunggu di lobi hotel ini, aku melirik ke luar dan kulihat mobil sedang si penambah kemacetan tadi. Aku makin merasa geli. Aku pernah bersekolah di sekolah yang hebat seperti menteri yang akan kutemui ini. Aku cukup rajin belajar ketika masih kecil hingga bisa sekolah di sekolah hebat itu. Dan karena pernah bersekolah di tempat sama pula aku bisa berdiskusi dengan sang menteri ini. Aku lagi-lagi tersenyum-senyum sendiri.

          Pertemuan usai dalam sejam. Sang menteri dan aku saling berjabat tangan. Kita sudah makan enak, minum enak. Semuanya serba enak, bahkan duduknya pun enak. Semua memang jadi enak ketika jadi orang penting, atau minimal dekat-dekat dengan orang penting. Tapi benarkah semuanya jadi lebih enak?
          Aku melangkah keluar hotel. Senja sudah tiba. Aku berjalan menuju halte, menunggu angkot lagi. Sempat tadi sang menteri memberikan amplop padaku, untuk uang transport, katanya. Ada beberapa lembar uang ratusan ribu di sana. Aku senang, malam ini bisa makan enak.

          Tapi senja ini sepertinya aku tak ingin segera naik angkot. Aku duduk sebentar di halte itu. Kurenungkan lagi obrolanku dengan pak menteri yang kebetulan kakak kelasku itu. Idealisme yang dibicarakan. Perjuangan untuk nasib rakyat banyak yang dibicarakan, diselingi makanan enak kaya protein dan vitamin yang pasti bersisa karena kebanyakan. Mungkin inilah definisi orang penting, pikirku. Kupandangi langit yang memerah. Kupasang lagi mp3-player-ku yang buatan taiwan ini. Mungkin aku terlalu banyak berpikir sehingga apa yang seharusnya enak menjadi kurang enak. Apa yang jadi bagi kebanyakan orang bukan masalah, menjadi masalah buatku. Apa yang adil bagi orang banyak, menjadi tidak adil bagiku. Kuputar lagi suara seksi Faith Hill,

Some day I'll wish upon a star
And wake up where the clouds are far behind me
Where troubles melt like lemondrops
Away above the chimney tops
That's where you'll find me

          Ah, aku tidak ingin jadi orang penting. Aku hanya ingin jadi burung yang terbang bebas daripada jadi manusia yang sekadar menerima. Daripada jadi seorang manusia yang berakal budi tapi jarang menggunakannya. Mungkin menjadi burung yang terbang berdasarkan insting masih jauh lebih indah buatku…

Somewhere over the rainbow
Bluebirds fly
Birds fly over the rainbow
Why then, oh why can't I?
Some day I'll wish upon a star
And wake up where the clouds are far behind me
Where troubles melt like lemondrops
Away above the chimney tops
That's where you'll find me

Bandung, 2 November 2006

Asmara Manusia Terkutuk

Perempuan muda itu mendekat. Matanya mengendus kalimatku terakhir yang penuh dengan makian. Tangannya tak tenang membenarkan letak kerudung yang dikenakannya, yang sebenarnya tak salah letak. Sedikitpun aku tak terangsang dengan celananya yang ketat, dan buah dada yang membusung atau senyum genit yang dihidangkannya ke depan hidungku. Tasnya penuh dengan kaset, CD, dan tentu saja disc-man merk terbaru. Kakinya menyilang di dekat kakiku dan akhirnya tangannya yang sedari tadi liar terlipat menekan keempukan buah dadanya. Sebuah kalimat tanya meledak dari mulutnya, “kenapa sih kau benci sekali dengan budaya pop?”. Aku tertawa panjang, sekadar untuk menutupi saraf-saraf di otakku berfikir keras bagaimana harus menjawab pertanyaan perempuan di depanku ini.

Aku terus menggetar-getarkan selaput suaraku dengan tawa renyah untuk menutupi kelambanan prosesor di bawah lebatnya rambutku ini. “Budaya pop…?”. Aku mengganti variasi dengan mengukir senyum ketololan di bibirku. Aku nyalakan rokok yang sedari tadi kupegang di tangan, dan kujawab, “pop culture makes you poorer and poorer….”. Kalimat itu datang entah dari mana. “Ah, pokoknya kita ‘’kan suka….”, serunya sambil memonyongkan bibir minta kucium. Tapi sungguh, aku jijik melihatnya. Dia kudiamkan. Ia sepertinya menantikan jawaban kilahan busuknya itu, yang mungkin dia sendiri merasa tolol. Aku hanya tersenyum dan memainkan rokok di tanganku. Sesekali menghembuskan asap chaosnya ke depan hidungnya yang tak terbiasa dengan asap rokok selain Marlboro Menthol. Kuperhatikan raut wajahnya, seolah aku bernafsu sekali ingin menggagahinya. Ia tersipu-sipu malu membuang penglihatannya ke arah tas besarnya, tangannya yang sok lentik mengeluarkan tabloid gosip dan mulai membaca. Aku yakin, ia tak akan mampu membaca selagi aku masih berada di sana. Tiba-tiba aku tertawa…

Ia menatapku hendak menerkamku dengan cakaran penglihatannya, heran seolah bertanya mengapa aku tertawa. “Memangnya ketawa harus ada sebabnya….?”, seruku sambil terus saja mengepul-ngepulkan asap yang sedari tadi diganggu oleh hembusan angin sepoi dan meningkatkan birahi. “Ayo pergi”, kataku padanya seraya berdiri. Matanya bertanya, kemana. Kutinggal ia dengan langkah-langkah lambat seolah terus mengajaknya. Memang beginilah cara laki-laki mengajak perempuan, harus jual mahal. Dan permainan terus dilanjutkan. Ia berdiri mengemasi barang-barangnya seperti perajurit yang hendak berangkat perang, semua amunisi harus pada tempatnya. Ia berdiri dan mulai beranjak ragu melangkahkan kakinya mengikutiku.

Terdengar olehku keragu-raguan dari langkah kakinya yang diseret ke tanah yang mungkin juga sudah muak dengannya. Aku berjalan di depan. Ia mengikuti dari belakang. “Pop membuatmu sangat bermoral!,” kataku. “Pop membuatmu miskin namun menjadi tentara moralitas yang membuat dompetmu terkuras habis tanpa kau sadari!”. Aku tertawa dalam hati, kok bisa kalimat itu keluar dari artikulatorku yang memang nakal itu. “Ekonomi butuh garda moralitas, meski pelakunya tak harus bermoral”. Terasa olehku ia memperlambat langkahnya. Namun sekian depa jarak kami ia akhirnya malah mempercepat langkah kakinya berusaha menyeimbangkan keadaan yang membuatnya telah kalah tempo. Aku terus mengoceh, “dunia pop membuat silau, seperti morfin, ia membuatmu mabuk, tapi kelaparan sesudahnya, akhirnya kau toh jadi pengemis… Kita ini tinggal di negeri miskin… ha..ha…ha….”, tawaku mungkin menggetarkan juga rumput-rumput yang kuinjak.

Kami sekarang di jalan yang agak gelap, di luar kampus tempat kami tadi memulai semua sandiwara satu babak ini. Ia diam saja, sekarang ia sudah berjalan di sampingku. Hawa sore mulai menusuk tubuhnya, ia kedinginan. Jalanan itu gelap sekarang, sesekali mata kami disilaukan oleh kendaraan yang menghadang di depan seolah hendak menubruk ulu hatiku, aku terus berjalan. Aku di depan. Ia di sampingku.

“Mau kemana kita?”, ia bertanya. “Semua dibikin seolah mengikuti prinsip kausalitas…. Itu yang membuatmu ketakutan ‘kan?”, aku terus mengoceh. “itulah moralitas, di sanalah Tuhan, di sanalah surga, di sanalah kulminasi kenyamanan…” Dahinya mengkerut, mungkin sekarang rasa bingung dan ingin tahu sudah mengalahkan kebimbangannya, berjalan bersama dengan seseorang yang bukan pacarnya di kegelapan malam. Langkahnya sekarang agak terseok, mungkin ia teringat akan pacarnya yang sama bodohnya dengan dia. Terbukti, ia melihat ke belakang, padahal tidak ada apa-apa di belakang kami. Kami terus berjalan, aku di depan, dan ia di sampingku.

“Kita ini selalu jadi obyek, dan sesaat kita merasa nyaman. Saat kita merasa tak nyaman, kita memaksa kita dengan pikiran bahwa semuanya memang takdir dan kita tak mampu menolaknya….”. Tepat di depan sebuah saung bambu yang biasa dipakai buat siskamling, kuajak dia mengaso sebentar. Ia pertama menolak. Untuk pertama kali, kupegang tangannya, kutarik dengan lembut, ia menurut. Aku duduk di bagian dalam saung, ia kubiarkan berfikir di luar. Ia kelihatan bimbang di kegelapan malam. Aku terus saja berbicara, “padahal di manakah letak moralitas? Standardisasi itu sangat menyiksa, ia mematikan kreativitas yang tersimpan di gudang ketidaksadaran, malu-malu muncul di depan banyak orang, namun akan keluar dalam ketololan yang terekam dalam kisah asmara cinta dan kebahagiaan yang tak pernah ada. Persis kayak orang onani!”.

Entah karena apa, ia masuk duduk di sebelahku. Sekarang kami telah begitu dekat, dan suasana begitu gelap. Tanganku liar mendekapnya. Dia agak menolak, tapi kupaksakan. Mulutku kupaksakan mendarat di mulut dan pipinya. Ia meronta, tapi laki-laki memang ditakdirkan lebih perkasa dari wanita. Aku tindih dia. Tanganku liar menelanjangi tubuhnya. Ia sekarang acak-acakan, dan ini membuatku semakin terburu nafsu. Ia berteriak-teriak. Teriakannya menjadi lagu yang indah pengisi sepi malam di tengah derai tawaku yang juga berfrekuensi agak tinggi.

Ia sekarang hampir telanjang, aku sekarang seolah tak sadar. Aku sedikitpun menyadari bahwa telah ada sekelompok pemuda di dekatku, dan menarik kerah bajuku, memisahkan tubuhku yang telah begitu terangsang dari tubuh perempuan yang aku tak tahu namanya itu. Suara gaduh. Ribut. Lampu-lampu senter menyilaukan mataku. Aku tak tahu tiba-tiba sebuah pukulan mengenai wajahku, ah bukan sekali, tapi ada beberapa pukulan yang bahkan membuat gigiku rontok. Ada secercah warna merah di layar penglihatanku, dan aku yakin itu darahku. Aku tersenyum!

Aku tak tahu kini aku berada di mana. Ada bau amis di sekujur tubuhku yang basah dengan pakaian yang tak lagi benar tata busananya. Bau amis bercampur sebuah bahan yang akrab di saraf sensorikku, ah bau bensin. Aku sekarang dikerumuni banyak sekali anak muda. Teriakan dan sorak-sorai bagaikan datangnya WestLife ke kampung ini. Aku dielu-elukan sebagai pahlawan kebejatan dalam percobaan pemerkosaan. Kalau penglihatanku masih benar, maka aku melihat ratusan wajah mengelilingiku.

Terasa aura kebencian itu di sini. Aku benar-benar menjadi pusat perhatian, dan ah, seseorang mengencingi aku. Ada perasaan jijik, namun popularitas ini benar-benar membuatku merasakan hal yang sangat aneh. Hiruk-pikuk. Hingar-bingar. Makian membahana. Teriakan memenuhi ruang waktuku, hingga aku tersadarkan oleh sebuah siraman minyak tanah di wajahku. Aku memandangi tubuhku, semua basah sudah. Aku tetap berusaha tersenyum!

Puncaknya adalah sepercik api yang di lemparkan ke tubuhku. Aku terbakar. Aku merasa sangat panas. Aku berteriak. Aku menggelepar-gelepar. Aku berteriak-teriak, namun suaraku tak mampu mengalahkan kehingaran di sekitarku. Aku meronta, namun aku sadar bahwa tangan dan kakiku telah diikat. Aku terbakar. Aku kesakitan. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku menangis kesakitan. Aku berteriak-teriak kesakitan. Namun teriakanku adalah tabuh genderang yang meramaikan pesta moral di kampung ini. Aku berteriak terus, aku tak mampu lagi tersenyum. Suaraku parau. Aku kesakitan.

Semua terasa sakit. Namun lama-kelamaan rasa panas itu mereda. Yang ada malah dingin. Semua telah terbakar. Pesta telah usai. Angin yang bertiup malam itu tak lagi menggigilkan kulitku. Pesta telah usai, dan aku tak tahu aku telah berada di surga atau neraka. Yang ada hanyalah sebuah lapangan tempat anak-anak biasa bermain bola menirukan kebolehan Ronaldo atau Gabriel Batistuta. Sesekali jadi tempat pesta pernikahan. Semua hanya tinggal lapangan yang sepi.

Apakah aku telah mati? Aku merasa begitu sehat sekarang. Sesekali aku suka orgasme, namun aku merasakan orgasme yang sekarang begitu lama. Aku berada di tengah kenikmatan yang luar biasa. Aku mrasa dingin dan panas tak lagi berbeda, tua dan muda tak lagi Stranded terpaut ruang waktu. Aku berada di sana, terselip di antara kenyataan dan kehidupan. Sayup-sayup kulihat di ujung sana, di dekat semak-semak, dua tubuh sedang saling bertindihan, diburu nafsu dan ketidaktetapan alam semesta. Sayup-sayup, di malam sepi ini rangkaian frekuensi lemah hinggap di saraf pendengaranku, sebuah lagu keroncong yang merdu, memastikan bahwa aku tak lagi berada di antara hidup yang membosankan, menekan, dan penuh kutukan ini….

Bandung, 1 Juli 2002

DO’A SISIFUS

Mikail Mikail, sang malaikat, pelan-pelan membuka arsip rahasia itu. Ia berusaha mempelajari berbagai surat-surat do’a yang dipanjatkan oleh umat manusia kepada Tuhan yang Maha Besar. Ia diam seribu bahasa memperhatikan sebuah arsip panjang yang memberikan gambaran autobiografis seorang manusia perempuan bumi. Ia merasa miris, namun ia teruskan membaca, sambil merapikan arsip itu, sesuai takdir dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

*****

Tuhan,
Hari ini aku berulang tahun yang kedelapan.  Tetapi semua sepertinya biasa saja. Rumah sepi-sepi saja. Ayah bekerja seperti biasa di bangunan plaza yang besar itu. Sekarang plaza itu sudah hampir rampung, tak ada yang tahu jika bangunan itu selesai nantinya, di mana lagi ia akan menjadi pekerja bangunan. Kota telah diubah orang-orang seperti ayah menjadi rimba beton yang berusaha mencakar langit. Ayah adalah suruhan orang-orang Babilonia yang ingin mencapai surga dengan menumpuk bata dan semen dan menemui Engkau di atas sana, namun tak akan pernah berhasil menemui-Mu. Dan karena bangunan hampir selesai, ayah tak punya apa-apa untuk dihadiahkan buatku.

Aku tak mengharapkan apa-apa dari ibu saat ini. Ia sedang sakit. Aku memohon Tuhan menyembuhkannya, agar ia bisa berjualan lagi di pasar pagi. Sudah tiga bulan ia tak sehat, seminggu lalu ia bahkan tak mampu lagi berjalan. Untung aku sudah lumayan besar untuk mencuci pakaian, membersihkan rumah kami, dan menyiapkan makanan untuk kami semua.

Teman-teman di sekolah tadi mengucapkan selamat ulang tahun padaku. Aku bersyukur pada-Mu karena memberikan aku kepintaran sehingga aku bisa selalu juara kelas di sekolah dan menjadi murid kesayangan guru. Teman-teman pun sayang padaku. Bahkan Andi tadi memberikan hadiah pensil baru padaku sebagai hadiah ulang tahunku. Banyak teman bilang kami ini seperti pacaran. Padahal aku tak mengerti arti pacaran. Yang pasti aku hendak memohon pada-Mu agar kelak setelah dewasa Tuhan membuatnya melamarku untuk menjadi isterinya. Aku ingin menjadi isterinya yang setia, seperti ayah dan ibu yang saling setia.

Tuhanku, aku tak mengharapkan apa-apa pada ulang tahun ini dari